Moonlight Sonata: Almost a Fantasy Maret 14, 2009
Posted by Irsyad in Uncategorized.trackback
Moonlight Sonata atau Mondscheinsonate dalam bahasa Jerman adalah sebutan populer untuk Piano Sonata No. 14 in C-sharp minor “Quasi una fantasia”, Op. 27, No. 2, karya Ludwig van Beethoven. Beethoven menulis sonata ini pada tahun 1801 dan mendedikasikannya untuk muridnya, Countess Giulietta Guicciardi. Konon saat itu Beethoven sedang jatuh cinta kepadanya. Piano Sonata No. 14 in C-sharp minor tidak dikenal dengan sebutan “moonlight sonata” hingga seorang kritikus musik, Ludwig Rellstab menamainya demikian pada tahun 1932 setelah kematian Beethoven. Rellstab membandingkan irama pertama sonata ini dengan cahaya bulan yang terpantul dari danau Lucerne, Swiss. Dan sonata inilah jawaban lengkap dari pertanyaan kemana saja saya beberapa minggu ini.
Kecuali para pembaca tidak mau tahu, saya akan melanjutkan bercerita. Ya, beberapa minggu ini saya berada di kampung halaman saya, Garut, mencoba dengan sia-sia memainkan “moonlight sonata.” Setiap malam setelah semua penghuni rumah terlelap, saya duduk dengan gitar di pangkuan dan tablatur di hadapan. Jadi bukan piano tapi gitar, gitar merek “Efi” yang umurnya beberapa tahun lebih tua dari saya. Gitar itu dibeli Bapak sewaktu muda sebelum menikah dengan perempuan yang sekarang jadi Ibu saya. Bapak sendiri sudah tak bisa memainkan gitar itu lagi karena tubuhnya telah kaku dan kebas akibat serangan pendarahan otak dua tahun lalu. Saya selalu berharap Bapak bisa memainkan gitar itu lagi suatu hari nanti.
Saya bukan pemain gitar yang handal jadi butuh waktu lama bagi saya untuk belajar memainkan sonata aneh yang awalnya tampak mudah tapi kesananya semakin susah ini. Tapi saya tak pernah menyerah. Hampir setiap malam saya membunyikan nada tang ting tung tang ting tung lamat lamat pelan hingga larut malam dan kadang hingga pagi menjelang. Saya pun tertarik untuk mencari informasi tentang sosok Beethoven dan tentunya tentang salah satu sonatanya yang paling terkenal dan paling sering ditampilkan ini. Saya akan ceritakan sedikit hasil pencarian saya.
Sonata ini memiliki tiga irama: Adagio Sostunento, Allegretto dan Presto Agitato. Irama pertama ditulis dalam bentuk sonata yang terputus. Irama pertama ini juga dimainkan secara Pianissimo atau “sangat pelan.” Irama ini telah mengesankan banyak pendengar. Berlioz menulis bahwa irama ini adalah “salah satu dari sekian puisi yang mana bahasa manusia tak tahu bagaimana membahasakannya.”
Irama ke dua adalah minuet dan trio yang relatif biasa; momen pelan yang ditulis di D-flat major. Kunci ini bisa disamakan dengan C-sharp major; yang merupakan kunci utama dari karya ini secara keseluruhan. Suara yang cukup ganjil dari delapan bar pertama agaknya adalah hasil dari minuet yang dimulai dari “kunci yang salah” yaitu kunci dominan dari A-flat major. Sonata ini diubah ke bentuk D-flat hanya pada frase ke dua, bar 5-10. Di frase ke dua ini, Franz Liszt menjelaskannya sebagai “setangkai bunga di antara dua jurang.”
Irama terakhir dan yang paling berkecamuk emosi inilah (C-sharp minor) yang terberat dari yang ke tiga. Pada bagian ini banyak terdapat arpeggio dan notasi-notasi yang memiliki tekanan bunyi yang kuat. Katanya dibutuhkan permainan yang flamboyan dan terampil untuk bisa menampilkan sonata ini dengan baik. Pada irama terakhir ini, Charles Rosen menulis “bagian ini adalah yang paling tak terkendali dalam cerminan emosinya. Bahkan hari ini, dua ratus tahun kemudian, keganasannya masih mengagumkan.”
Inilah katanya yang membuat Beethoven mencantumkan frasa “Quasi una fantasia” (bahasa Itali yang saya kira bahasa Inggrisnya “Almost a Fantasy” dan bahasa Indonesianya kurang lebih “Hampir sebuah khayalan”) karena sonata ini tidak mengikuti pola sonata tradisional dimana pola irama pertama berbentuk sonata reguler dan irama ke tiga atau ke empat berbentuk cepat-lambat-(cepat)-lambat. Ada juga yang mengatakan bahwa sonata ini, khususnya irama ke tiga, telah menginspirasi Chopin dalam menulis Fantaisie Impromptu-nya. Terlepas dari itu, meskipun semua orang memujinya, Beethoven sendiri ternyata kesal karena saat itu orang lebih menyukai “moonlight sonata”-nya daripada karyanya yang lain. Beethoven pernah berkata pada Czerny dengan sedikit kesal bahwa dia bisa menulis karya yang lebih bagus dari itu.
Sulit saya bayangkan bagaimana bisa dua ratus tahun lalu seorang pemuda yang ditinggal mati ibunya pada umur 17 tahun karena TBC, yang ayahnya seorang pemabuk dan selalu menghambur-hamburkan uang untuk alkohol, yang membuatnya memikul beban mengurus kedua adiknya yang masih kecil, yang pernah dihantam otoslerosis, yang itu terus menggerogoti indera pendengarannya, yang membuatnya menderita ketulian permanen, yang dijadikan alasan yang bagus buat beberapa wanita yang ia cintai untuk menolak cintanya, yang pernah membuatnya frustasi dan terpuruk, yang karena itu tak pernah punya ‘teman hidup’ sampai akhir hayatnya, dan yang lain sebagainya itu bisa menulis sonata yang indah sekaligus ganjil ini. Sonata yang tetap dikenang orang walau terbentang jarak ratusan tahun.
Inilah yang terjadi kemudian. Saya yang pada awalnya berusaha keras memainkan “moonlight sonata” berbalik menjadi membiarkan diri saya terhanyut dimainkan olehnya. Saya mendengar tiap dentingnya, mencoba merasakan apa yang dulu Beethoven rasakan. Apa sebetulnya yang sedang coba ia sampaikan kepada Giulietta Guicciardi dengan nada-nada ini? Mungkin perempuan itu bilang “too much” atau “too way out for me”? Kalau telinganya tak berfungsi, bagaimana dia bisa mengecek nadanya benar atau salah? Enak didengar atau tidak? Tablatur itu tak lagi saya terjemahkan untuk tangan. Saya hanya membayangkan bunyinya saja di kepala. Sonata ini pun kemudian memainkan saya dengan sukses.
Sulit saya pahami, hidup saya wajar dan lancar, saya mendapat kasih sayang yang amat melimpah dari orang tua, panca indera saya juga sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya, tapi apa yang saya hasilkan selama ini? Tidak ada. Apa keahlian dan keterampilan saya? Sepertinya juga tidak ada. Jangankan menghasilkan karya sehebat “moonlight sonata” seperti Beethoven, menirunya pun saya tak bisa. Saya hampir menganggapnya sebagai sebuah fantasi yang indah saja. Saya selalu menyerah memainkan sonata ini pada irama pertama atau kedua. Selebihnya saya mulai tak konsentrasi dan mengantuk. Pikiran saya melayang kemana-mana. Jika sudah demikian, biasanya saya meletakkan gitar dan menengok kamar adik-adik dan kamar Ibu-Bapak sejenak sebelum kemudian pergi tidur. Malam itu bukan cahaya bulan yang terang terpantul dari riak danau Lucerne, tapi wajah orang-orang terkasih, patronus-patronus yang selama ini menghangatkan dan melindungi harapan saya dari dementor.
Apakah ini pengaruh dementor atau bukan saya tak tahu pasti tapi saya jadi sering khawatir. Jika orang sehebat, secerdas dan seterkenal Beethoven saja bernasib sial tak bisa mendapatkan wanita dan tak menikah sampai akhir hayatnya, bagaimana dengan saya yang biasa-biasa saja dan tak punya karya? Jangan-jangan yang quasi una fantasia atau almost a fantasy bagi saya tidak hanya memainkan “moonlight sonata” saja, tapi juga mendapatkan ‘teman hidup’ untuk menemani sisa hidup saya… hahahahahaha))
Grand Situ Buleud Purwakarta, 140309.
‘composta per festiggiare il sovvenire de un grand’ uomo’
Ludwig van Beethoven, 17 Desember 1770 – 26 Maret 1827.

terus menulis ya syad!!
Irsyad,
Point yang bagus dari perenungan yang mendalam.
Masterpice selalu dihasilkan buah dari Kebahagiaan yang ekstrem atau Kepedihan yang memilukan.
Untuk dapat memainkan Sonata ganjil itu, modalnya tidak sulit…cuma satu… coba terus tiap hari.
Tidak perlu lama. Tapi harus tiap hari.