jump to navigation

Jawaban Kant atas Hume Januari 6, 2009

Posted by Irsyad in Filsafat.
trackback

Oleh Muhammad Irsyad

Disampaikan dalam Diskusi Epistemologi Formaci Rabu 24 Desember 2008

Dalam tiga diskusi terakhir, kita telah mengeksplorasi respon tiga filsuf besar terhadap pertanyaan “dapatkah kita mengetahui dunia di luar diri kita?” Mereka adalah Locke, Berkeley dan Hume. Dalam menyoroti persoalan tersebut, mereka selalu memperhatikan pandangan filsuf sebelumnya dan mengomentarinya. Kali ini kita akan mengeksplorasi respon Immanuel Kant terhadap pertanyaan yang kurang lebih sama. Hidup Kant dan ke tiga filsuf di atas relatif berdekatan, tapi di antara ketiganya, untuk urusan ini Kant lebih banyak berhadapan dengan Hume. Seperti ke tiga filsuf sebelumnya, Kant menginginkan kita untuk tetap berdekatan dengan pengalaman inderawi yang aktual. Menurut Kant, kita tahu tentang “dunia di luar diri kita” tapi bagaimana kita mengetahuinya dan seberapa derajat justifikasinya, Kant berbeda.


Dibangunkan Hume

Di antara filsuf-filsuf lain yang kita diskusikan dalam serial diskusi ini, biografi Immanuel Kant (1724-1804) mungkin yang paling tidak menarik. Ia hampir tak pernah meninggalkan kampungnya Königsberg. [1] Hidupnya sangat teratur, disiplin dan tak banyak terlibat dalam urusan publik dan urusan wanita (Kant men-jomblo seumur hidup). Banyak yang tak menyangka bahwa di balik aktivitas belajar, mengajar dan menulisnya yang menjemukan, Kant sebenarnya terlibat dalam ketegangan intelektual yang seru, ketegangan yang membuatnya melahirkan karya-karya kelas dunia.

Siapa yang tak kenal “Critique of Pure Reason” (1781)? “Prolegomena to Any Future Metaphysics” (1783)? “Foundations of The Metaphysics of Morals” (1785)? “Critique of Practical Reason” (1788)? Atau “Critique of Judgement” (1790)? Mahasiswa filsafat pasti sudah akrab dengan karya-karya yang jadi cerminan keluasan pengetahuan dan perhatian Kant itu. Saking luasnya sehingga makalah ini hanya mampu memotret sejumlah kecil poin penting “Critique of Pure Reason” saja, khususnya yang berkaitan dengan apa yang ingin Kant sampaikan terhadap Hume.

Saya menjadikan pernyataan Kant bahwa Hume telah membangunkannya dari tidur dogmatisnya sebagai titik keberangkatan makalah ini. Bagian inilah yang juga jadi titik tolak penting filsafat Kant dan ilmu pengetahuan modern. Teori Hume tentang impresi[2] membawanya pada kesimpulan bahwa kita kekurangan pengetahuan tentang hubungan sebab-akibat. Kepastian akan sesuatu memang susah sekali kita temukan. Kant sadar ini adalah pertanda buruk bagi ilmu Fisika dan Matematika. Bukan hanya karena keduanya sarat dengan hubungan sebab-akibat, tapi juga karena keduanya berpretensi mengajukan kepastian. Seandainya Hume benar, bagaimana nasib kedua ilmu tersebut? Kant merasa bahwa para filsuf harus menjawab tantangan Hume dan menunjukkan bagaimana pengetahuan ilmiah sejati mungkin terjadi.

Pada satu titik krusial, Kant sepakat dengan Hume. Pengalaman kita yang tak teruji memang tak pasti dan kurang memadai sebagai dasar ilmu pengetahuan. Karena itu, menurutnya, kepastian yang disibakkan ilmu pengetahuan harus menemukan dasarnya di luar kebimbangan kita, dan bahkan kalau bisa, tak terbantahkan. Alur pikiran itu membuat Kant menyadari bahwa apa yang kita bawa ke dalam pengalaman bisa jadi merupakan hal penting yang menentukan.

Jawaban Pertama, Dua Forma yang kita bawa ke dalam pengalaman

Sepakat dengan para empiris, Kant beranggapan bahwa segala pengetahuan manusia berawal dari pengalaman. Tapi Kant menambahkan sebuah pembatasan penting, “But though all knowledge begins with experience, it by no means follows that all arises out of experience.”[3] Menurut Kant, kuncinya ada pada konsep “ruang” dan “waktu”.

Tak ada objek yang bisa dibayangkan tanpa keruangan yang tersirat. Lebih lanjut, segala persepsi kita (baik eksternal maupun internal) selalu mengikuti satu sama lain terkait dengan waktu. Kesimpulan Kant, ruang dan waktu bukan sesuatu yang semata ditemukan secara empiris. Keduanya merupakan forma[4] di mana di dalamnya pengalaman inderawi dibentuk. Bertentangan dengan Berkeley, analsis ini membuat Kant membedakan antara kenyataan “Noumena” dan “Fenomena”. Fenomena adalah kenyataan sebagaimana ia nampak kepada kita, sementara noumena adalah kenyataan apa adanya, terlepas dari pengaturan pikiran dalam kegiatan penginderaan.

Pengaturan yang kita terapkan ke dalam pengalaman tak hanya berupa forma intuisi[5], (sebagaimana yang kadang disebut Kant sebagai “ruang” dan “waktu”). Pengetahuan memiliki akar dalam pengalaman-pengalaman inderawi tapi ia juga memerlukan pengaturan intelek manusia kepada isi penginderaan tersebut. sebagaimana yang berulang kali disebutkan Kant: “Without the sensuous faculty no object would be given to us, and without understanding no object would be thought. Thoughts without content are void; intuitions without conceptions, blind.”[6]

Diperlukan “pengelolaan” pengalaman inderawi agar putusan bisa dibuat. Bagi Kant, “pengelolaan” ini berarti membawa pengalaman inderawi berhubungan langsung dengan kemampuan intelek aktif. Lalu dengan menguji sifat-sifat bentuk logis yang biasa hadir dalam putusan, Kant membuat kesimpulan bahwa realitas bentuk-bentuk logis tersebut mensyaratkan adanya 12 kategori pemahaman dasar.[7] Inilah yang kemudian disebut forma intelek / pemahaman. Lewat kategori-kategori tersebut, isi pengalaman inderawi dikelola dan putusan kemudian memungkinkan untuk dihasilkan. Di bukunya sendiri, Kant tidak menjelaskan masing-masing definisi kategori tersebut secara terperinci. Ia hanya menjelaskan beberapa kategori saja yang ada kaitannya dengan pembahasan yang akan ia lakukan selanjutnya.

Salah satu contoh adalah kategori kausalitas yang dihubungkan Kant dengan putusan yang punya bentuk logis “jika… maka…” Banyak konsep dasar dalam bahasa kita yang menyiratkan hubungan sebab akibat (seperti kata membuat, menghasilkan, menjadikan, menciptakan dsb.). Kant kemudian menyatakan bahwa hubungan tersebut juga mendasar dalam pengelolaan kita terhadap pengalaman dan dalam pengetahuan kita. Ini bukan hubungan yang ditemukan lewat pengalaman. Ia berdiri sebagai prinsip pengelolaan dasar yang membuat pengalaman dan pengetahuan kita mungkin.

Menurut Kant, keteraturan yang kita terapkan pada pengalaman menyediakan keajegan dan kepastian terhadap ilmu pengetahuan. Kita bisa mengalami benda-benda hanya dalam cara-cara formal tertentu dan karena itu, ilmu pengetahuan menjadi mungkin. Kant menyebut temuannya tersebut sebagai “revolusi kopernikan” Kant.

Kant percaya bahwa pikiran manusia mengatur pengalaman dengan forma ruang & waktu dan kategori-kategori yang ada mendahului pengalaman. Ia bukanlah idea bawaan seperti yang diserang Locke, tapi ia ada sebagai kondisi yang mesti hadir untuk menyikapi pengalaman yang kita punya. Dunia sebagai yang dialami dan dunia yang independen dari pengalaman bisa jadi sama atau tidak sama. Kita hanya tak bisa tahu pasti. Hasil usaha Kant sampai pada kesimpulan bahwa kita bisa memperoleh kepastian dalam pengalaman, tapi kita juga harus mengakui bahwa pengetahuan kita sama sekali terbatas. Dengan melihat bahwa dunia sebagai yang dialami ada di sekitar kita, kita telah menyibak sebuah kepastian yang dilupakan Hume. Tapi kita melakukan hal itu dengan mengabaikan “benda pada dirinya”.

Kita telah menemukan bahwa dasar dari pengetahuan nyata kita tidak hanya datang dari pengalaman, tapi dalam bagian yang secara niscaya kita tentukan kepada pengalaman. Jadi wajar jika Hume sulit untuk tidak skeptis karena ia hanya menganalisa ide-ide kita dalam pengalaman dan bukan apa yang diandaikan bagi keberadaannya. Hume memang gagal menemukan apa yang Kant temukan, tapi Hume sukses membuat Kant kerepotan dengan pernyataan-pernyataan pedasnya. Kant sendiri mengakui bahwa menyelamatkan pengetahuan ilmiah ternyata sama sekali bukan perkara mudah.

Jawaban Kedua, Putusan Sintetik A Priori

Pergulatan antara Hume dan Kant juga bisa digambarkan dengan cara lain. Kant mempercayai adanya putusan sintetik a priori dan berusaha menunjukkan bagaimana hal itu mungkin di saat Hume berpikir tak ada putusan macam itu. Hume percaya bahwa semua putusan kita selalu menyangkut hubungan idea atau fakta.

Putusan yang menyangkut idea benar secara a priori, universal, niscaya dan kebenarannya tak tergantung pada pengujian empiris. Putusan ini benar secara a priori karena predikat sudah termuat atau tersirat dalam subjek putusan. Contohnya seperti putusan “semua segi tiga punya tiga sisi”. Dalam istilah Kant, putusan ini disebut analitik. Putusan analitik tak memberi kita informasi baru dan tak menunjukkan fakta apa pun. Kebenarannya sudah bisa dipastikan dengan melihat makna kata-katanya.

Sedangkan putusan yang menyangkut fakta dipahami Hume sebagai tidak pasti, tidak universal dan tidak pula benar dengan makna kata-katanya. Contohnya seperti putusan “Kebanyakan mawar berwarna merah”. Dalam istilah Kant, putusan ini disebut sintetik a posteriori. Dalam putusan ini, subjek tak memuat predikatnya dan status kebenaran putusan ini tergantung pengujian empiris.

Hume boleh beranggapan bahwa semua putusan tak lain adalah analitik a priori atau sintetik a posteriori. Tapi Kant beranggapan lain. Kant menemukan sejumlah putusan ternyata tak termasuk dua kelompok itu. Beberapa putusan bersifat sintetik a priori. Putusan macam ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ilmu pengetahuan dan filsafat karena ia membawa informasi baru: predikat putusan tidak termuat dalam subjeknya tapi kebenarannya pasti, universal dan tak bergantung pada pengujian empiris.

Meski keberadaan putusan-putusan tersebut dalam metafisika tidak pasti, Kant menyatakan bahwa ia menemukan banyak contoh seperti itu dalam matematika dan fisika. Dari sini Kant menyimpulkan bahwa metafisika memiliki masa depan yang terbatas. Tapi kabar baiknya, dari sini pula Kant berhasil membuat masa depan Matematika dan Fisika menjadi tak sesuram yang dibayangkan Hume.

Bagi Kant, pertanyaannya kemudian bukanlah apa kita punya pengetahuan yang pasti? Tapi lebih dari itu, sejak kita punya pengetahuan yang pasti, adalah bagaimana rasio manusia mungkin untuk menghasilkan pengetahuan tersebut secara a priori? Kant percaya jawabannya kembali pada kemampuan mengatur yang di bawa pikiran ke pengalaman.

Menurut kant, kita mengetahui sejumlah hal penting yang tak tergantung pada pengalaman. Tapi bagaimana bisa? Bukankah kontradiktif mengatakan bahwa kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang pengalaman secara a priori? Dengan lantang Kant mengatakan, “Tidak”. Hal itu tidak akan kontradiktif jika kita tidak mengklaim bisa mengetahui hal-hal khusus tentang pengalaman selain hanya sifat-sifat forma-nya saja.

Siswo tak punya kepastian apakah pacarnya akan datang pada diskusi sore nanti, tapi Siswo sudah tahu lebih dulu bahwa kejadian kenampakan atau ketidaknampakkan pacarnya itu pasti akan melibatkan pencerapan Siswo tentang pacarnya dalam waktu. Siswo boleh jadi tak mengetahui warna baju yang dipakai pacarnya nanti atau bagaimana ia kelihatannya dengan baju yang dipakainya? Tapi dia tahu sebelum pacarnya datang bahwa ia akan nampak kepadanya dalam ruang. Luar biasa memang Siswo, pria idaman para wanita ini. Tapi tenang, kalau pun kita tak tahu pasti hal-hal khusus dan tak bisa menyamai sifat penyabar, perhatian, dan penyayang Siswo, paling tidak kita semua punya forma intuisi dan intelek yang sama dengannya.

Pengalaman empiris tidak memberi tahu kita hal-hal tentang waktu dan ruang tersebut. Keduanya diketahui sebagai kondisi bagi pengalaman individual. Kita tak mempelajari keduanya lewat pengalaman tapi menentukannya terhadap pengalaman. Pikiran kita juga tak memiliki isi khusus yang mendahului pengalaman, tapi pikiran kita memiliki forma segala pengetahuan empiris yang mendahului sensasi khusus. Forma kemudian terlepas dari isi pengalaman dan juga lebih pasti dan universal dibanding pengalaman individual. Kita telah memperoleh kepastian, tapi sumbernya terletak pada kita, bukan pada objek sebagaimana kita mengalaminya. Nyata, forma dari ruang dan waktu telah membuat penampakan objek menjadi mungkin.Tapi ini berarti bahwa kita hanya mengetahui objek hanya sejauh ia nampak kepada kita, bukan ia pada dirinya.

Untuk menghindari kebingungan dan kesalahan, kita harus tetap berada dalam batasan-batasan tersebut dan tidak mempertanyakan tentang “benda pada dirinya” yang tak dapat kita jawab. Kita tak bisa menghidar menggunakan konsep-konsep seperti kuantitas, kualitas, dan hubungan-hubungan yang kesemuanya berada diantara kategori-kategori yang mengelola pengalaman.

Kant menganggap Hume telah mencari di tempat yang salah ketika ia mencoba menyimpulkan kausalitas dari pengalaman. Kausalitas adalah salah satu prinsip pengelolaan dalam pikiran sebagai sebuah bentuk pemahaman kita yang mendahului segala pengalaman partikular. Tanpa prinsip tersebut, pengalaman akan menjadi kacau balau. Dan jika Kant tak bisa menjelaskan mengapa hal itu begitu adanya, setidaknya ia telah menunjukkan bagaimana.


[1] John K. Roth dan Frederick Sontag, Immanuel Kant and His Copernican Revolution dalam The Questions of Philosophy, California: Wadsworth Publishing Company, 1988, hal. 55.

[2] Istilah Hume terhadap apa yang disebut Locke sebagai “Idea Simpleks.”

[3] Immanuel Kant, Critique of Pure Reason, trans. J.M.D. MeikleJohn, New York: Prometheus Books, 1990, hal. 1.

[4] Apa-apa yang dapat mempengaruhi fenomena di bawah hubungan tertentu, sebagai lawan dari “Materia” yang berarti fenomena yang berhubungan dengan sensasi inderawi.

[5] Intuisi adalah istilah Kant untuk kegiatan mengindrai. Kant percaya bahwa intuisi niscaya melibatkan penerapan sebuah forma intuisi ke data-data indrawi yang kacau dan berserakan.

[6] Kant, Op.Cit., hal. 45.

[7] Karena keterbatasan tempat, tabel 12 kategori digambarkan di papan tulis saja.

Komentar»

1. Suluh - Januari 10, 2009

kalau mas sendiri bagaimana pendapatnya soal yang disana dan yang tercerap indera (noumena dan fenoumena).

ada sedikit saran: akan lebih kaya lagi jika disandingkan dengan kritik shoupenahuer atas kant soal ruang, waktu dan noumena.

salam kenal…