jump to navigation

Apa arti semua ini? Januari 6, 2009

Posted by Irsyad in Uncategorized.
trackback

imagesAgustus tahun lalu, di sela-sela Kuliah Kerja Sosial, saya dan kawan saya mendaki gunung Guntur Garut. Seperempat jalan lagi menuju puncak kami berdua rebah. Keinginan untuk minum kami tahan sekuatnya meski kami sangat kehausan. Persediaan air yang cuma setengah botol harus cukup untuk berkemah dan perjalanan turun nanti. Di tengah kelelahan itu saya iseng bertanya, apa sebenarnya yang membuat orang menyukai kegiatan susah payah macam ini? Kawan saya telah puluhan kali melakukan ritual naik – termenung sejenak di puncak – dan turun lagi. Di slayer kumal kebanggaannya, tertoreh coretan-coretan serampangan nama-nama gunung eksotis yang pernah ia daki; Rinjani, Semeru, Salak, Gede, Ciremai, Sundoro dll. “Ah susah dijelaskan, nanti juga kamu tahu. Yang jelas ini belum seberapa,” katanya. Akhirnya saya berusaha sendirian menyusun alasan yang bagus yang bisa menyuntikkan sedikit tenaga agar dapat melanjutkan perjalanan. Tapi susahnya, di puncak tidak ada bidadari, tidak ada mall, tidak ada kafe, tidak ada DVD, tidak ada PlayStation, tidak ada warnet, tidak ada hot spot dan tidak ada sinyal. Selain kesepian, kesendirian, keterasingan, kerapuhan, dan keterlemparan, tak ada apa-apa di puncak sana.

Saya pun teringat, ratusan tahun lalu, Kant dan hampir tiap orang di dunia pernah menanyakan hal yang sama, “apa yang bisa saya harapkan?” Apakah anda berharap, misalnya, hidup itu berarti? Bahwa hidup itu seluruhnya rasional, bertujuan, dan bisa diketahui dengan cara yang sesuai dengan eksistensi anda sendiri? Biasanya orang punya harapan-harapan tersebut. Orang yang tidak menganggap hidupnya berarti takkan punya harapan sama sekali. Anda pergi ke kelas, kuliah, ujian, malam mingguan, liburan bersama keluarga, semuanya memenuhi hidup anda dan saya yakin semuanya berarti bagi anda. Tapi di tengah-tengah rencana harian, anda bisa jadi masih tetap bertanya: Apa semua ini bermakna? Kemana semua ini membawa saya?

Kita mengisi hari-hari kita dengan rencana dan tujuan yang jelas, walaupun hanya sekedar jajanan yang ingin dimakan atau film yang ingin ditonton. Tapi kadang ini tak memuaskan kita, bahkan jika rencana tersebut berhasil terwujud. Kita mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekedar rutinitas hidup: persahabatan, cinta, pengabdian dan permainan misalnya – itu semua memberi kita alasan yang bagus untuk hidup. Tapi sayangnya itu bukan satu-satunya elemen yang kita alami. Kematian yang tak terduga menghantui kita. Cinta dan persahabatan tak selalu bisa menahan rintangan yang menerjangnya. Dusta, pengkhianatan, kekerasan dan bencana, baik yang ditimbulkan alam maupun ulah manusia, semuanya mengubah hal-hal yang kita cintai jadi puing-puing reruntuhan.

Sering kali tanpa sebab yang pasti, rencana terbaik kita jadi sia-sia. Sejumlah kejadian dengan mudah menghantam kita sebagai sebuah musibah, meninggalkan kita merasa bahwa hidup kering dari arti yang seharusnya ia miliki. Manusia seakan sangat rapuh. Hidup bisa jadi menelan segalanya dengan kekosongan yang bisa mereduksi semuanya menjadi keheningan yang hampa. Lalu dapatkah hidup saya berarti? Bagi manusia pertanyaan itu sama alamiahnya dengan harapan itu sendiri dan jawabannya adalah “Ya!” Tapi bagaimana caranya inilah yang agak rumit.

myth-sisyphus-other-essays-albert-camus1Anda pernah mendengar mitos Sisyphus? Akan lebih bagus jika anda pernah mendengarnya. Kalau belum, saya sarankan anda membaca “The Myth of Sisyphus” karya Albert Camus, peraih nobel sastra 1957 yang berteman tapi akhirnya bermusuhan dengan Jean-Paul Sartre itu. Kutipan-kutipan berikutnya saya ambil dari Albert Camus, The Myth of Sisyphus & Other Essays, trans. Justin O’Brien (New York: Vintage Books, 1955)

Di Yunani zaman dahulu kala hiduplah seorang manusia yang menentang nasib. Namanya Sisyphus. Ia tak mengakui dewa-dewa yang berkuasa dan dewa membalasnya dengan memerintahkannya mendorong batu besar ke atas gunung hanya untuk melihatnya menggelinding lagi ke bawah, begitu selamanya. Pengulangan tanpa akhir dari tugas ini jelas tak menghasilkan apa-apa baginya. Camus menganggap kita semua tak lebih daripada Sisyphus.

Bagi Camus, Sisyphus adalah pahlawan absurd. Dia mencintai hidup dan membenci kematian. Hasratnya memang telah mengutuknya, tapi yang membuatnya mulia adalah ia tak pernah menyerah dan tak pernah tak jujur. Dia menerima nasibnya hanya untuk melawannya. Dengan itu ia telah memberi makna bagi eksistensinya, makna yang tak bisa menghilangkan absurditas tapi bisa menolak untuk menyerah pada akibatnya. Sisyphus menciptakan makna dalam keadaan yang jelas-jelas merenggut signifikansi kehidupan manusia. Camus ingin kita menemukan cara hidup seperi Sisyphus. Dia bicara banyak tentang bagaimana kreatifitas dengan sangat artistik bisa menggerakkan kita dalam arah tersebut, tapi meski demikian Camus ingin kita tetap menemukan jalan kta masing-masing.

Ketika kita menanyakan makna hidup, kita menyadari bahwa keinginan kita pada jawaban yang dimaksud memunculkan perasaan absurditas sebanyak sifat dunia itu sendiri. Kata Camus, perasaan absurd adalah perasaan “terasing” bahkan terhadap dirinya sendiri (hal. 5). Absurditas datang kepada kita dalam sebuah perasaan yang bisa menimpa sesorang di “sudut jalan” (hal. 9). Perasaan ini muncul sebagai fungsi dari tubrukan antara dunia dan keinginan yang kita buat sebagai makhluk rasional. Secara spesifik, absurditas muncul dari konfrontasi antara “kebutuhan manusia dan keheningan dunia yang tak rasional” (hal. 21). Kita menanyakan ribuan “mengapa” tanpa ada jawaban. Kita menginginkan solusi tapi yang kita peroleh absurditas.

Camus percaya bahwa usaha untuk menemukan jawaban yang memuaskan kita tak bisa dan takkan hilang. Justru absurditaslah yang membuat kita seperti sekarang ini. Jika kepedulian manusia tak ada, “yang absurd” juga takkan ada. Harus dicatat pula bahwa yang absurd bukanlah penghilangan makna. Absurditas takkan ada tanpa rencana dan tujuan kita.

“It happens that the stage sets collapse. Rising, street car, four hours of work, meal, sleep, and Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, and Saturday according to the same rhythm – this path is easily followed most of the time. But one day the ‘why’ arises and everything begins in that weariness tinged with amazement.” (hal. 10)

albert_camus1

Albert Camus

Harus dicatat juga bahwa absurditas memasuki eksistensi kita bukan semata karena kebutuhan pribadi tak terpenuhi, tapi karena suatu kondisi yang menyia-nyiakan hidup kita dan merampas hubungan-hubungan manusia dengan signifikansi. Menyadari bahwa ia tak bisa keluar dari yang absurd sejauh ia hidup, Camus mengatakan bahwa keadaan tersebut menyiratkan “aben totalnya harapan” (hal. 23). Dia tak melihat apa pun yang memungkinkannya untuk melampaui yang absurd. Kematian karena itu akan mengakhirinya. Tapi alih-alih menyuruh bunuh diri atau membolehkan pembunuhan, menurut Camus, kita justru harus membiarkan yang absurd tersisa untuk menentangnya. Dalam “The Rebel” (trans. Anthony Bower, New York, Vintage Books, 1956) Camus menganggap bahwa absurditas harus mendorong pemberontakan demi keadilan dan solidaritas manusia. “I Rebel therefore we exist” kata Camus meniru formula Cartesian. (hal. 22)

Maka, ketika kita menanyakan “bisakah hidup kita berarti?” tugas sebelum kita, disimpulkan Camus, “is to learn to live and to die, and, in order to be a man, to refuse to be a god.” (The Rebel, hal. 306). Untuk menggambarkan kesimpulan yang diinginkan Camus dari logikanya tentang yang absurd, kita salah satunya kita harus menentukan apa yang ia maksud dengan perkataan bahwa “Di sana ada sejumlah harapan yang keras dalam hati manusia.” (The Myth, hal. 76).

Camus meminta kita untuk merenungi Sisyphus ketika ia mencapai puncak. Dia tahu betul batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah, dan memang demikian. Tapi sementara Sisyphus turun kembali untuk menyelamatkannya, dia tak patah arang. Dia melampaui nasibnya dengan mencemoohnya dan menganggapnya rendah, lebih kuat dari batu. Camus menyimpulkan “We must imagine Sisyphus Happy.” (The Myth, hal. 9). Sisyphus melihat dengan jelas, dia mengejar harapan untuk bebas. Tapi dengan menyerah pada harapan, dan menghadapi absurditas secara jujur, dia telah menciptakan makna. Hidup punya makna jika kita membuatnya demikian dengan aktifitas kita, meski eksistensi pada dirinya takkan pernah bisa memuaskan kita.

gunturKita tak selalu bisa mencari alasan untuk setiap tindakan kita, dan kadang memang tak perlu. Meski tak punya harapan apa-apa, kami berhasil tiba di puncak pagi keesokan harinya. Dada kami kosong persis seperti botol air minum kami. Tapi itu tak membuat kami ragu, tanpa hasrat atau lemah. Di shubuh yang dingin itu, kami beranjak menuju puncak menerobos gerimis dan kabut tipis. Tak ada matahari. Pemandangan di puncak hanya hamparan kabut dan awan. Setelah termenung sejenak, kami pun pulang dengan tangan hampa namun dengan jiwa yang terisi penuh.


Mengenang Manglayang


Komentar»

1. ancient - Januari 10, 2009

hmm…
hmm…
kayak joker yang ngga bunuh batman cuma karena batman itu ’so much fun…’ buat dia???

2. Sulaiman Djaya - Maret 11, 2009

Saya juga gak tahu tuh kawan…..

3. 10pangkat6 - April 28, 2009

suka bgt…
saya suka naik gunung karena ga tau kenapa..
saya dan temen2 suka ngobrol tentang hal2 yg kamu tulis disini diatas gunung