Masalah Terbesar Kita; Sebuah Pelajaran dari Laskar Pelangi Oktober 12, 2008
Posted by Irsyad in Umum.trackback
Oleh Muhammad Irsyad
Saya tak beranjak dari tempat duduk padahal film Laskar Pelangi yang saya tonton malam itu sudah usai. Entah karena kursinya yang empuk dan AC-nya yang sejuk atau karena saya masih ingin berfikir dan mencerna film tadi. Saya perhatikan orang-orang satu per satu mulai keluar. Sementara saya masih duduk sendiri tenggelam dalam pertanyaan, apa artinya kisah anak-anak miskin Belitong ini bagi mereka, orang-orang kaya yang ada di teater 3 Twenty One Plaza Bintaro ini?
Saya pun berjalan keluar. Handphone kembali saya nyalakan. Seorang teman mengirim pesan, isinya komentar tentang film Laskar Pelangi yang ia tonton sehari sebelumnya. Saat itu presiden SBY belum menonton dan memberi komentar tentang film ini. Yang jelas komentar teman saya sedikit lebih bagus dari komentar SBY. Kata SBY, “film (yang mengisahkan betapa orang Indonesia dalam banyak sekali hal belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dari dulu sampai sekarang) ini membuktikan bahwa film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.” Kata yang di dalam kurung itu saya tambahkan sendiri.
Saya masih berjalan menuju pintu keluar Mall. Mengingat SBY saya jadi berkhayal andai saja waktu itu saya dikerubuti wartawan yang menanyakan komentar saya tentang film ini, saya setelah membetulkan sikap berdiri dan merapikan sedikit rambut yang kusut akan menjawab dengan mantap:
“Aha… film yang bagus. Tidak rugi saya membayar Rp. 15.000,- (jatah makan sehari saya) untuk membeli tiket. Dari segi penyutradaraan, akting aktor, dialog dsb. film ini sangat bagus.
Betul kata teman saya, meski agak beda dari versi novelnya, Riri mampu menangkap maksud Andrea. Film Laskar Pelangi adalah film Riri dan Novel Laskar Pelangi adalah novel Andrea.
Saya tak tahu apa maksud Andrea yang ditangkap Riri atau apa yang ingin disampaikan Riri kepada penonton. Yang jelas berikut inilah pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini dengan segala latar belakang pengalaman hidup, kondisi sosial ekonomi serta keterbatasan daya tangkap saya:
Saya kira film ini selain menunjukkan kita beberapa segi persoalan bangsa Indonesia tapi juga menawarkan sebuah obat bagi persoalan yang ditunjukkannya. Ya seperti kata Pak SBY, itu memang masalah Belitong dan penduduknya pada saat itu. Tapi kalau boleh saya tambahkan, kita masih dapat menjumpai kondisi serupa (atau lebih parah) di banyak tempat di tanah air sekarang ini.
Kemiskinan, pengangguran, komersialisasi pendidikan, eksploitasi kekayaan alam, perubahan iklim, bencana, korupsi dan sederetan masalah pelik lainnya masih saja menghiasi hari-hari kita tanpa ada kejelasan kapan akan selesai. Masalah-masalah itulah yang selama ini muncul di kepala saya setiap mengingat persoalan negara. Tapi setelah menonton film ini saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan bukan itu masalahnya.
Jangan-jangan masalahnya adalah kita tak punya rasa optimis menghadapi persoalan yang datang bertubi-tubi. Orang sudah lelah untuk berharap. Orang kini tak lagi punya impian bersama tentang negerinya sendiri, seperti apa bentuknya nanti.
Bukankah dulu masalah kita jauh lebih pelik lagi? Ingatlah situasi nasional masa awal kemerdekaan. Indonesia begitu mencekam dan porak poranda oleh kelaparan, invasi asing, inflasi yang tinggi, pemberontakan dsb. tapi kenapa kita bisa bangkit? Apa perbedaan dulu dan sekarang? Apa yang dulu ada dan sekarang tiada?
Dulu kita bergerak dalam impian yang sama, mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kita berhasil. Kita mampu bertahan dan bangkit meski perlahan. Itulah yang tidak kita miliki sekarang. Memang betul orang-orang di Indonesia kini sudah banyak yang pintar dan melek huruf, tapi kita hampir tak punya harapan dan impian bagaimana negeri ini di masa depan. Kepala kita penuh berisi tapi dada kita kosong melompong. Kita hampir putus asa. Alih-alih memberi dan berkorban sebanyak-banyaknya, kita malah dengan rakus mengambil sebanyak-banyaknya apa yang ada di depan mata.
Saya khawatir jangan-jangan inilah penyebab kenapa negeri tercinta ini tetap bergolak meski demokrasi sudah secanggih sekarang. Saya ingin katakan tontonlah film ini dan tirulah Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Ikal dkk. tirulah optimisme mereka.
Saya tidak sedang membual bahwa dengan optimisme dan harapan segala masalah akan selesai. Tidak. Optimisme bukanlah obat ajaib. Optimisme tidak akan mengobati penmyakit bangsa tapi ia mampu menggerakkan orang untuk berbuat, melangkah ke depan dan secara tidak langsung menyelesaikan masalah.
Dimana pun dan siapa pun anda, sebarkanlah optimisme. Kritisi dan soroti masalah bangsa dengan jernih tapi jangan sebarkan pesimisme dan skeptisisme. Terutama anda kawan-kawan wartawan. Terima kasih.”
Ah ending yang bagus. Kata-kata saya pasti akan muncul di berita koran dan TV sebentar lagi. Saya meloncat masuk ke dalam angkutan umum, mengabaikan puluhan pertanyaan wartawan yang masih penasaran.
Sayangnya angkot tak kunjung bergerak juga. Bukan dicegat wartawan tapi sedang mencari muatan. Hanya saya sendiri yang berstatus penumpang di dalam angkot itu. Tak ada teman ngobrol membuat saya tenggelam dalam lamunan. Saya membisikkan kata itu berkali-kali, “optimisme… optimisme…” dan sepanjang jalan saya hanya merenungi jalan hidup saya sendiri. Bagi orang yang tidak rupawan dan tidak punya uang banyak seperti saya, sekolah di negeri ini memang susah, tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Merebut hati perempuan juga susah tapi itu juga bukan alasan untuk menyerah.


Alhamdulillah masih ada orang seperti bang Irsyad yang sadar dan peduli tentang masalah pendidikan dan masa depan anak-anak kita.
Mungkin bang artikel berikut ini juga bisa lebih menambah wawasan dan pengetahuan bang Irsyad mengenai betapa menyedihkannya negara kita ini.
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=167&Itemid=1&lang=id
Wassalam,
Laskar Pelangi memang film yang sangat inspiratif dan mas Irsyad bisa membawanya ke permukaan dengan sangat baik..
imajinasinya luar biasa dan timbul dari rasa keperdulian.. Anda pasti ingin bangsa ini maju..
nice posting
artikel yang berbobot! keep posting!
salam.
subhanallah cerita yang menjadi refleksi kita dalam memberikan sumbangsih pendidikan yg terbaik buat negeri ini.
saya takutnya malah eforia Laskar Pelangi hanya sekedar nonton dan mengambil hikmahnya namun aplikasi di lapangan tidak terjadi, yah jadi seperti biasa2nya aja
semoga kita bisa mengambil hikmah dan meneruskan dengan tindakan nyata
saya belum sempat nonton filmnya.
thanks sharingnya… saya mau buktikan sendiri… nanti gimana film ini heheheehe… udah beli buku nya gak dibaca2, udah beberapa kali antri tiket gak dapet2… nasib ya nasib….
kapan ya saya bisa nonton …
Thank you all.. I just can return the compliments.
je pense que tu a la vrai opinion..
maksih..
selalu dapat ide buat selalu optimis..(jika neng masih blm pny optimisme buat negeri in). setidaknya buat diri sendiri..
heueheu..
eh buka my blog dunkz..
udah nonton ya???
iiii,,jd kepengen ug lah..
emank dr awal,,bukunya ja bs kci bnyak inspirasi n hall yang sngat bermanfaat tuk qt…
msalah filmnya g ush dicomment, bagian yg penting d comentarin adlh pernyataan ” bagi orang yg tdk rupawan sperti sy, merebut hati perempuan jg susah” hrs diganti menjadi “rupawan adlh relatif, dan merebut hati perempuan adlah hal yg mudah buat sy” sbg wujud optimisme itu. ok, slamat berjuang n ttp optimis…