jump to navigation

Heidegger on My BDay! Juni 18, 2008

Posted by Irsyad in Akta Kelahiran, Filsafat.
trackback

Oleh Muhammad Irsyad

Yang diperingati setiap hari kelahiran tak lain adalah keterlemparan. Tak ada kalkulasi apalagi pilihan sebelumnya. Kita sudah selalu terlempar, larut dan tenggelam dalam keseharian menuju kematian. Saat seonggok daging berdegup kecil untuk pertama kalinya, saat itu sebenarnya kita sudah terlalu tua untuk mati. Saat pertama berdetak, saat itu pula segala sesuatunya disetel, termasuk waktu dalam diri kita.

Saya tidak lahir pada hari minggu 7 Juni 1987 pukul 01.00 malam. Lupakan itu. Waktu bukan di luar sana tapi di dalam sini. Usia saya juga tidak diukur dengan detik yang jaraknya setara dengan 9.192.631.770 getaran cahaya dalam transisi antara dua energi isotop calcium 133 itu. waktu ada di dalam sini, detaknya pun tak seperti detik yang tetap. Bisa melar atau menciut, ritmis atau tak beraturan. Buktinya, waktu terasa lama kala menunggu teman, tapi serasa singkat kala bertemu dan berbicara dengannya. Lagi pula kalau pun seandainya semua arloji di dunia dimusnahkan, beserta jam pasir, jam air, jam matahari, kalender, penunjuk waktu di HP dan komputer serta kronometer-kronometer lainnya semuanya dimusnahkan, toh saya tetap mewaktu dan bergerak menuju masa depan menuju kematian saya. Waktu menjadi berarti justru karena saya bisa mati.

Waktu ada di sini. Jadi jangan membayangkan ada sekuensi dulu, kini dan nanti. Semuanya satu dan utuh. Tapi bukan berarti waktu di sana seperti jam, kalender dsb. menjadi tak ada gunanya sama sekali. Ia masih berguna untuk menyatukan pengalaman kita. Janjian untuk kencan, rapat bisnis dan tanggal lebaran masih memerlukan pengukur-pengukur itu. Tapi waktu yang benar-benar murni dan asali berada di sini. Dan kita tak boleh didikte olehnya seperti orang-orang yang bersorak-sorai tiap tanggal 1 Januari jam 00.00 itu.

Ceritanya 7 Juni dua puluh satu tahun lalu saya tumpah ruah ke dalam ruang bernama dunia, mengisi dan mewarnainya sambil terus berdetak. Saya terus membentang meruang dan mewaktu. Terus terserak membentang seperti bawang. Saya tak lain adalah bentangan antara kelahiran dan kematian. Bentangan itu telah dimulai dan kini sedang menuju usai.

Manusia adalah proses. Selalu belum hingga saatnya sudah. Selalu terus menjadi hingga saatnya telah benar-benar jadi dan berhenti. Ketika sudah jadi, saat itu juga jantung berhenti berdegup dan totalitas tercapai. Zenit adalah nadir. Kita baru benar-benar ada setelah tiada.

Persis seperti bintang jatuh, datang entah dari mana. Dari palung tanpa dasar. Dari angkasa tak berbatas lalu terhempas ke bumi, membumi, larut dan terbakar di dalam atmosfer dan musnah. Bintang itu sendiri tak bisa menyaksikan cahaya indah yang ia goreskan saat terbakar karena ia telah musnah, tapi kita di bumi bisa melihat guratan cahaya indah yang mengisahkan riwayat singkat hidup sang bintang dari awal ia menembus atmosfer bumi, hingga terbakar dan hilang.

Manusia mirip bintang jatuh. Ratusan manusia lahir dan mati setiap hari. Ratusan ton pula bintang jatuh yang sejatinya adalah meteoroid yang melesat menghiasi langit setiap malam hingga fajar. Kita adalah bintang jatuh yang terlempar, terbakar dan musnah. Tragis atau ironis, memang demikian faktanya dan kita tak berdaya untuk membantahnya. Namun selagi terus menjadi dan melesat, ukirlah sesuatu yang indah bagi dunia. Tak penting seberapa panjang cahayanya, tapi buatlah suatu sedimentasi memori yang baik tentang dunia yang pernah kita huni bersama. Tinggalkanlah dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada saat pertama kali anda menemukannya.

Komentar»

1. isti - Juni 27, 2008

selalu jadi bahsa yg indah, saat sahabtku yang menggoreskannya di mana pun (dulu di keRtas ku. msh ingat suRat pas ultahku?ttg manusia yg sama2 memilki wktu 24 jam tap dgn hasil dan kedewasaaan yg beRbeda???)
ing, selalu sperti ini..
maka bantulah aq mewaktu dan menggoReskan kesan indah di bumi yng hanya qta lewatin sekejap ini…

2. Irsyad - Juli 8, 2008

Trims komentarnya, Isti yang baik. Itu pemahamanku tentang waktu ketika SMA. Sekarang jelas banyak berubah. Itu salah satu bukti bahwa kita selalu belum, tapi selalu menjadi.
Tentu sobat..Itu sebabnya kenapa AKu ingin mengajakmu melihat bintang jatuh. Suatu saat. Entah kapan.

3. Edi Purwanto - Juli 15, 2008

isinya lumayan inspiratif

4. Liliz - Februari 13, 2009

menganalogikan hidup seperti bintang jatuh.. cara yang spesial dan renyah untuk dicerna otak.. btw baca tulisan kamu ini buat aku jadi inget novelnya pramoedya ananta toer “Bukan Pasar Malam”, katanya, manusia hadir ke dunia tidak seperti pasar malam yang datang beramai-ramai, tapi datang sendiri2 dan pergi sendiri2..