Refleksi Teosentris dan Antroposentris dalam Misteri Soliter Maret 28, 2008
Posted by Irsyad in Filsafat.trackback
Oleh Muhammad Irsyad
Mengingat Formaci, di kepala saya langsung terlintas kata filsafat dan remi. Filsafat karena kajian kawan-kawan Formacian lebih cenderung ke filsafat. Remi karena remi adalah salah satu cara refreshing kebanyakan kawan-kawan Formacian setelah pusing menggarap tema-tema filsafat. Terus terang saya tidak menguasai kedua bidang itu (filsafat dan remi). Saya mulai menaruh perhatian terhadap filsafat dan kartu-kartu remi setelah membaca buku Misteri Soliter (selanjutnya–MS) karya Jostein Gaarder. Seperti dalam karyanya yang lain, dalam MS pun Gaarder berhasil menggabungkan fantasi, mitologi dan tema filosofis dengan sangat jenius. Tulisan yang ditujukan untuk memenuhi persyaratan anggota baru Formaci ini adalah ungkapan pengalaman baca seorang pemula di bidang filsafat terhadap buku tersebut.
Seperti disebutkan dalam Avant-propos dari Himawijaya, MS lebih ditujukan sebagai cerita fiksi yang menggugah orang untuk bertanya, berfilsafat. Gaarder seakan ingin menyatakan bahwa menyibukkan diri di bidang filsafat bukanlah kegiatan keramat yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir ahli saja, melainkan terbuka bagi setiap orang. Philos akan Sophos tumbuh dari pertanyaan dan keheranan. Pertanyaanlah yang kemudian menjadi titik pangkal filsafat (Peursen, h.2) dan pertanyaan itu menunjuk ke dua arah, kepada peristiwa sehari-hari dan kepada si penanya sendiri.
Gaarder lahir di Oslo, Norwegia. Lelaki kelahiran tahun 1952 itu sebetulnya telah mulai menulis sejak 1974, tapi fiksi pertamanya, Diagnosen og andre noveller (The Diagnosis and Other Stories) baru ditulis pada tahun 1986. Bukunya yang lain, khususnya yang telah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia diantaranya Vita Brevis, Dunia Sophie, Misteri Soliter, dan Putri Sirkus & Lelaki Penjual Dongeng. Sejak itu sepertinya sudah menjdi ciri khas Gaarder untuk mengupas tema-tema filosofis melalui fiksi. Dua bidang itu memang sudah tidak asing lagi bagi Gaarder. Basic sastra diperolehnya di jurusan bahasa Skandinavia di Oslo Katerdralskole. Sedangkan basic filsafat dan teologi diperolehnya di Universitas Oslo. Dia juga sempat menjadi kontributor buku ajar filsafat dan teologi, serta mengajar filsafat di sekolah menengah selama beberapa tahun.
Buku Misteri Soliter yang saya baca dan kutip di tulisan ini adalah terbitan Jalasutra yang diterjemahkan oleh Anton Kurnia dan Septina Ferniati dari sumber asli terbitan Phoenix, London tahun 1996. Sekedar informasi, MS memenangkan Penghargaan Kritik Sastra Norwegia tahun 1999 dan dianggap sebagai bahan bacaan paling favorit diantara karya-karya Gaarder lainnya. Di Indonesia sendiri, MS telah mengalami beberapa kali cetak ulang.
Ringkasan Cerita Misteri Soliter
Tokoh utama dalam MS adalah Hans Thomas, seorang bocah yang melakukan perjalanan bersama Ayah menuju Athena untuk mencari Bunda. Bunda telah pergi selama 8 tahun tanpa jejak & kabar ketika Bibi Hans menemukan fotonya (Bunda) dalam majalah mode Yunani. Maka ketika Ayah memenangkan undian lotere, mereka bergegas melakukan perjalanan ke kampung halaman para filsuf itu untuk membawa bunda kembali.
Perjalanan itu dimulai di rumah mereka di Arendal, Norwegia. Dan bersama itu pula cerita dalam buku MS dimulai. Perjalanan mereka nampak biasa-biasa saja sampai mereka berhenti di suatu daerah di perbatasan Swiss untuk mengisi bensin. Di perhentian itu, Hans diberi kaca pembesar misterius oleh seorang kurcaci. Kurcaci itu pulalah yang telah mengarahkan mereka untuk melewati daerah bernama Dorf di pegunungan Alpen. Dorf adalah tempat dimana Hans mendapat Buku Mungil dari Tukang Roti Tua yang tersimpan dalam salah satu kue kismis.
Dari titik ini, kita akan mendapati dua cerita. Pertama tentu saja adalah penuturan Hans Thomas seputar perjalanannya menemukan bunda; Perenungan-perenungan filosofis Hans beserta Ayahnya dalam setiap perhentian untuk merokok dan deskripsi tempat-tempat eksotis yang mereka lalui beserta mitos-mitos setempat. Dan kedua adalah cerita Hans tentang bacaannya terhadap Buku Mungil yang didapatnya dari Tukang Roti itu. Buku itu berjudul “Soda Pelangi dan Pulau Ajaib.” Huruf-hurufnya sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca lewat kaca pembesar. Penutur dalam buku itu adalah sang Tukang Roti yang kemudian diketahui bernama Ludwig Messner. Yang diceritakan Ludwig adalah Rahasia Pulau Ajaib yang dihuni Frode beserta joker dan 52 kartu remi. Jadi dalam MS ini ada cerita dalam cerita dalam cerita, dan uniknya lagi cerita-cerita itu saling berjalin dan bertemu di ending buku.
Sesuai amanat pemberinya, Hans Thomas merahasiakan buku mungil itu dan membacanya secara sembunyi-sembunyi di jok belakang atau di penginapan. Kisah dalam buku mungil itu berlapis-lapis, tapi sederhananya kira-kira begini; Ludwig (penulis buku) menceritakan bahwa Albert Klages pernah bercerita kepadanya tentang Tukang Roti Hans yang pernah menceritakan kepadanya tentang Frode yang menceritakan kepadanya ihwal pulau ajaib dan sosok kartu remi yang hidup.
Dalam buku tu Ludwig bercerita kepada pembaca (Hans Thomas) bahwa dahulunya dia adalah seorang prajurit jerman yang terusir dan terdampar di Dorf Alpen. Ia diselamatkan oleh Tukang Roti bernama Albert Klages yang aneh dan penyendiri. Singkat cerita, Ludwig diangkat anak oleh Albert dan diajari membuat roti. Sampai suatu ketika, Albert merasa bahwa hidupnya takkan lama lagi. Tibalah saatnya bagi Albert untuk mewariskan toko roti itu dan memberitahu sebuah rahasia kepada Ludwig. Ia memerintahkan Ludwig untuk menjaga rahasia itu sampai datang generasi penerus yang akan datang. Rahasia yang didapatnya dari tukang roti Hans 52 tahun lalu itu adalah tentang soda pelangi dan 52 kurcaci remi yang hidup di pulau ajaib. Sebagai bukti kebenaran cerita itu, di akhir pertemuan Ludwig mencicipi ajaibnya rasa soda pelangi.
Albert memulai ceritanya kepada Ludwig dengan kisah hidup masa kecilnya. Ibunya meninggal karena sakit ketika Albert masih kanak-kanak. Sejak itu keluarganya hancur. Saudara-saudaranya pergi dan ayahnya hanya bisa mabuk-mabukan. Albert sering merasa kelaparan. Jika lapar ia hanya berdiri memandangi toko roti. Pemilik toko yang kemudian diketahui bernama Hans itu lalu memberinya makanan dan perlindungan. Sebagai imbalannya Albert membantu tukang roti Hans. Albert pun diajari cara-cara membuat roti olehnya. Sampai suatu saat tukang roti Hans merasa bahwa waktunya tak lama lagi. Ia mengangkat Albert sebagai anak, mewariskan toko rotinya dan memberitahunya sebuah rahasia. Rahasia itu adalah pengalamannya ketika terdampar di pulau ajaib dan pertemuannya dengan Pelaut Frode, pencipta soda pelangi dan 52 sosok remi yang hidup. Di akhir pertemuan, Albert membuktikan dengan lidahnya sendiri keajaiban rasa soda pelangi itu.
Tukang roti Hans memulai ceritanya kepada Albert tentang latar belakang hidupnya. Ayahnya adalah tukang roti, tapi ia memilih untuk bekerja sebagai awak kapal barang dengan rute Meksiko-Spanyol. Suatu ketika, kapal tempat Hans bekerja tersesat dan kehilangan arah. Ia memperkirakan bahwa kapal mereka tengah berada di suatu daerah di selatan bermuda ketika tiba-tiba badai besar menghempas dan menenggelamkan kapalnya. Hanya Hans yang berhasil menyelamatkan diri dalam sekoci. Setelah seminggu lamanya terapung tak karuan di lautan, suatu pagi ia melihat setitik daratan. Hans mendayung sekuat tenaga sampai tangannya berdarah. Ia baru sampai di pulau itu sore harinya. Ia menambatkan perahu dan berjalan kedalam pulau untuk mencari makanan dan manusia. Semakin ia berjalan, pepohonan dan hutan seakan terus tumbuh lebat sampai ia tidak bisa melihat lautan. Ia memutuskan untuk menyusuri sungai untuk menemukan kembali lautan. Tapi sungai itu tidak bermuara ke laut melainkan menembus lorong/gua di gunung berbatu. Hans memasuki lorong tersebut sampai dia menemukan celah menuju dataran terbuka. Hans keluar dari celah tersebut. Dari situlah ia mulai menemui satu per satu kurcaci dengan simbol dan angka remi di seragamnya sampai dia bertemu Frode, satu-satunya manusia di pulau itu.
Frode begitu terharu dan takjub bisa menemui Hans. Sudah 52 tahun lamanya ia tidak bertemu dan bercakap-cakap dengan manusia. Hans lalu menceritakan perjalanannya; bagaimana dia bisa sampai kesana. Dia juga menceritakan situasi Eropa selama sekitar lima puluh tahun ini. Kedatangan Hans sebetulnya telah diramalkan oleh Frode dengan permainan soliternya, tapi itu baru disadarinya setelah ia menemui Hans. Hans pula yang menjadi bukti bahwa semua yang terjadi di pulau ajaib bukan khayalannya sendiri. Ada orang lain yang dapat melihat kartu-kartu remi yang hidup selain dirinya, pikir Frode. Setelah Hans, tibalah saatnya bagi Frode di saat-saat terakhir hidupnya untuk bercerita.
Kisah bagaimana ia bisa sampai ke pulau itu tidak begitu berbeda dengan Hans. Dia adalah pelaut yang mengalami kecelakaan kapal di sekitar daerah bermuda dan terdampar di pulau ini sendirian. Ia pun mulai hidup menyesuaikan diri, bercocok tanam, menamai tanaman-tanaman aneh, memburu & menjinakkan hewan-hewan aneh, meramu obat, membuat aneka minuman, serta membuat roti dan gelas. Tahun-tahun berlalu ia tak kunjung bisa menemukan pantai dan tak satupun manusia yang ia temui. Ia dilanda kesepian yang dahsyat. Ia teringat akan Stine kekasihnya. Satu-satunya hiburan baginya adalah bermain soliter. Ketika di kapal, Ia selalu membawa satu pak kartu di sakunya. Tak terhitung berapa banyak permainan soliter yang dia temukan dan mainkan.
Tidak ada teman bicara membuatnya bosan dan tersiksa. Ia mulai berbicara sendiri dengan kartu-kartu remi, memberinya ciri-ciri dan sifat layaknya manusia. Kadang ia melingkarkan kartu-kartu itu dan berbicara kepada mereka persis kumpulan manusia yang sedang rapat. kartu-kartu itu membalas ucapan Frode, tentunya dengan omongan yang dipikirkan Frode sendiri. Lama-kelamaan kartu-kartu remi itu pun mulai rusak. Frode lalu menyimpannya dalam kotak dan tak menggunakannya lagi. Tapi ia masih terus bermasin soliter dan berbicara kepada mereka untuk mengisi waktu kosongnya, tapi kali ini hanya didalam kepala. Ia bisa membayangkan kartu-kartu itu dengan sengat jelas. Mirip orang yang berhitung dengan mengoperasikan sempoa. Sampai suatu ketika keajaiban terjadi. Di suatu pagi datang padanya dua sosok kurcaci (Pangeran keriting & Raja Hati). Muncullah percakapan-percakapan diantara mereka, percakapan yang pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia tidak bisa membedakan khayalan & kenyataan karena sudah terlalu seringnya ia membayangkan hal ini. Sejak saat itu, kurcaci-kurcaci lain yang mewakili kartu-kartu remi mulai berdatangan hingga lengkaplah 52 kartu. Mereka membangun desa dan Frode mengajarinya keahlian-keahlian. Selain Frode, penghuni pulau itu tidak banyak bertanya atau terheran-heran dengan semua keanehan ini sampai datang Joker. Joker datang paling terakhir setelah beberapa tahun. Dialah yang mengganggu ketentraman desa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Siapa mereka? darimana mereka berasal?
Sampai suatu ketika sampailah waktunya perjamuan Joker. Perjamuan Joker adalah perayaan yang diselenggarakan setiap Hari Joker. Di hari joker, semua kurcaci merayakan dengan bersenandung kalimat metafor empat tahunan yang telah mereka hafal. Kata-kata itu jika dipahami dan disusun dengan baik akan mampu menceritakan sejarah dan masa depan. Lewat ramalan itu pula, Frode mengetahui bahwa Hans adalah cucunya dari hubungannya dengan Stine. Di hari itu Joker berhasil membangunkan kesadaran kurcaci-kurcaci bodoh. Frode meninggal di hari yang sama, hari terakhir tahun penanggalan remi. Kurcaci-kurcaci memberontak dan berserikat untuk membunuh Hans dan Joker. Bersama itu pula Pulau Ajaib mulai hancur luluh dari dalam. Hanya Hans dan joker yang berhasil menyelamatkan diri lewat sekoci mereka. Sosok-sosok 52 kartu yang hidup itu berubah kembali menjadi kartu remi biasa. Kartu-kartu itu kemudian dibawa oleh Hans yang kelak akan menjadi salah satu bukti bahwa Hans pernah berada di pulau ajaib tersebut. Hans kemudian memutuskan untuk menjadi tukang roti di daerah Dorf, sementara Joker terus berkelana keliling dunia menyadarkan orang untuk terus bertanya siapa aku? Darimana aku berasal?
Dengan ramalan yang ada di buku itu, Hans Thomas dan Ayah berhasil menemukan Bunda dan membujuknya pulang. Lewat buku itu pulalah Hans mengetahui bahwa pemberi buku (Tukang Roti tua / Ludwig Messner) adalah kakeknya (ayahnya Ayah). Dan disitulah kisah buku mungil berakhir dengan diikuti oleh berakhirnya pula kisah perjalanan Hans Thomas dalam misteri soliter.
Seperti inilah kira-kira ilustrasi cerita keseluruhan
Sisi-sisi Filosofis yang Disentuh oleh Keseluruhan Kisah.
Refleksi atas Tuhan, Waktu, dan Takdir dalam Peristiwa Sekitar
Kisah 52 kartu remi Frode yang berubah menjadi penuh dengan daya hidup itu diragukan oleh Hans Thomas. Ia pun kemudian meragukan sekaligus mengagumi hidupnya sendiri karena ia melihat kesamaan antara dirinya dengan 52 kartu itu. Dalam kedua kasus itu, ia tidak bisa memahami bagaimana sesuatu bisa muncul begitu saja dari ketiadaan. Manusia seakan-akan terlempar begitu saja bersama percikan debu. Seperti kisah tipuan kartu yang misterius itu, Hans menganggap dunia dengan semua orang yang hidup didalamnya sebagai tipuan sulap yang maha hebat. Dan harus ada pesulap yang hebat juga dibalik semua itu.
Tapi jika dunia adalah sebuah tipuan sulap, maka harus ada tukang sulap agung dibalik semua itu. Kuharap suatu hari aku akan mampu mengungkap tipuan sulap itu. Tapi tak mudah untuk mengungkap tipuan sulap itu karena sang pesulap tidak pernah naik panggung. (MS 221)
Dialog Hans dengan Ayah tentang Tuhan dibawah ini juga cukup menarik. Mereka sedang sarapan di Naupaktos ketika Hans bertanya kepada Ayahnya.
Hans: “…Ayah, percayakah Ayah pada Tuhan? […] Jika Tuhan benar-benar ada, maka Ia pintar bermain petak umpet dengan ciptaan-Nya.”
Ayah: “Mungkin Ia takut saat melihat apa yang telah diciptakan-Nya jadi Ia lari dari segalanya. Kau tahu, tidak mudah mengatakan siapakah yang rasa takutnya paling besar; Adam atau Tuhan. Kupikir proses penciptaan menakutkan keduanya. Aku sependapat denganmu, setidaknya Dia menandai adikarya-Nya itu sebelum pergi meninggalkannya.”
Hans: “Jadi Ayah percaya Tuhan kalau begitu?”
Ayah: “Aku tidak berkata begitu. Sebenarnya yang kukatakan adalah, Tuhan duduk di surga menertawakan kita karena kita tidak percaya kepada-Nya.” […] “Tidak. Tuhan telah mati, Hans Thomas. Dan kitalah yang membunuhnya.”
Kupikir komentarnya sangat ruwet dan kacau, hingga aku membiarkannya tanpa menyahut. (MS 225-227)
Dalam beberapa bagian, Gaarder memperlihatkan problem & keterbatasan-keterbatan manusia ketika manusia mencoba menjelaskan Tuhan, atau ketika Tuhan mencoba menjelaskan dirinya kepada manusia. Seperti ketika tukang roti Hans bertanya kepada Frode, bagaimana sosok-sosok remi itu bisa muncul begitu saja & begitu nyata? Frode tidak begitu yakin dengan jawabannya. Lalu tukang roti Hans berkata, tidakkah kurcaci-kurcaci remi itu pun menanyakan hal yang sama? Dan inilah jawaban Frode
“Tidak… Ada sesuatu dalam diri mereka yang menahan mereka dari melihat kenyataan bahwa mereka adalah buah pikiranku. Tentu sama saja dengan semua pikiran kita. Tak ada ciptaan dalam benak kita yang menyadari keberadaannya. (MS 217)
Di bagian yang lain, Hans lalu menanyakan hal itu kepada Ayah
Ayah: “…Ada otak yang jauh lebih encer dari otak kita. Umpamanya, kita mengerti bagaimana otak cacing tanah bekerja – setidaknya sebagian besar cacing tanah demikian. Mungkin cacing tanah tak mengerti hal itu. Otaknya terlalu sederhana.”
Hans: “Mungkin ada Tuhan yang memahami kita?”
Ayah: “Mungkin benar, tapi kemudian itu akan sangat rumit. Ia akan kesulitan memahami diri-Nya sendiri.” (MS 195)
Refleksi lain yang menarik dalam kisah itu adalah tentang waktu. Dengan jenius, Gaarder berhasil menemukan sistem kalendarisasi berdasarkan kartu remi. Dikisahkan Frode tidak tahu persis hari / tanggal berapa ketika dia pertama kali menginjakkan kaki di pulau ajaib. Ia pun mulai membuat sistem penanggalannya sendiri dengan menggunakan kartu remi. Dalam satu pak kartu remi ada 52 kartu dengan ditambah dua, tiga sampai empat joker. Tapi umumnya hanya ada dua joker. Lihatlah hitung-hitungan dibawah ini:
|
1 tahun = 52 minggu (artinya setiap minggu diwakili oleh satu kartu remi) 7 X 52 = 364 + 1 Hari joker (untuk tahun biasa) = 365 + 2 Hari Joker (untuk tahun kabisat) = 366 Kalender kartu remi memiliki 13 bulan (dari As sampai Raja), setiap bulan terdapat empat minggu, tiap minggu terdiri atas 28 hari (13 X 28 = 364 + 1 hari Joker)
Tiap minggu memiliki kartunya masing-masing (wajik, keriting, hati, skop). Dan tiap bulan memiliki angkanya masing-masing (As – Raja). Hari joker bukan milik bulan atau minggu apapun. Pada hari itu diselenggarakan jamuan Joker, sedangkan permainan soliter yang sering dijadikan ramalan diselenggarakan di hari joker setiap empat tahun sekali (kabisat). Minggu pertama tiap tahun adalah As Wajik. Dan minggu terakhir tiap tahun adalah Raja Skop. Empat jenis kartu itu juga mewakili empat musim dalam satu tahun. Wajik untuk musim semi, keriting untuk musim panas, hati untuk musim gugur dan skop untuk musim dingin. Jika kita menambahkan seluruh lambang pada seperangkat kartu secara bersamaan, akan diperoleh nilai 91. (1+2+3+4+5+6+7+8+9+10+11+12+13 = 91) dan 91 X 4 = 364. |
(Lebih lengkap lihat lampiran kalender remi)
Apakah satu set kartu dibuat dengan pikiran seperti itu? Apakah sengaja ada bilangan angka yang sama dalam satu set kartu sebagaimana hari-hari dalam setahun? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas Ayah tidak percaya ada yang sengaja membuat susunan seperti itu.
Ayah: ”Tidak, aku tak percaya itu, tapi kupikir hal ini merupakan contoh cara dimana orang mungkin menafsirkan tanda-tanda yang ada tepat di depan hidungnya.” (MS 272)
Masih soal waktu, Ayah kemudian menceramahi Hans Thomas tentang kenisbian materi dan pengrusakan waktu.
Kau tak dapat menghindari waktu. Kau dapat menghindari para raja dan kaisar dan mungkin Tuhan, tapi kau tak dapat menghindari sang waktu. Waktu mengikuti setiap langkah kita, karena segala sesuatu di sekitar kita terbenam dalam kesementaraan ini. […] Waktu tak berlalu, Hans Thomas, dan waktu tidak berdetik. Kita adalah manusia-manusia yang berlalu dan jam kita berdetik. Waktu melahap jalannya sendiri melalui sejarah. […] Ia membuka peradaban besar, menggerogoti monumen tua, dan melahap generasi demi generasi. Itulah mengapa kita berbicara tentang ‘pengrusakan waktu’. Waktu memamah dan mengunyah – dan kitalah yang berada diantara rahangnya.(MS 303-304)
Tapi kemudian Ayah memberi tahu Hans Thomas bahwa masih ada sesuatu yang abadi dan tidak rusak oleh waktu.
“lihatlah, kita hidup, tapi kita menjalani kehidupan ini satu kali saja. Kita mengembangkan tangan dan menyatakan bahwa kita ada, tapi kemudian kita tersingkir ke tepi dan terdorong ke kedalaman sejarah. Karena kita mudah disingkirkan. Kita adalah bagian dari penamaran abadi dimana topeng-topeng dipakai bergantian. Tapi kita berhak mendapat lebih, Hans Thomas. Kau dan Aku berhak mengukir nama kita pada sesuatu yang abadi…”(MS 305)
Sesuatu yang abadi dan tak menua itu adalah fantasi, idea atau gagasan. Khayalan memiliki kemampuan ajaib untuk tetap seperti pertama kali tercipta, muda dan penuh kehidupan selama-lamanya. Berapa umur Rapunzel, Kerudung Merah, Putri Salju, Doraemon, Popeye, dan kabayan sekarang ini? Seratus? Seribu tahun mungkin? Mereka amat muda sekaligus amat tua. Itu karena mereka ada dalam khayalan manusia. Seperti kurcaci-kurcaci di pulau ajaib, mereka takkan pernah menua dan beruban. Mereka tidak akan pernah terluka, bahkan pakaian mereka takkan pernah koyak.
Selain waktu, refleksi yang tak kalah menariknya adalah tentang takdir. Dari serangkaian kejadian-kejadian aneh & menakjubkan dalam hidupnya, perjalanannya dan apa yang ia baca di buku mungil, Hans Thomas bertanya-tanya adakah semua itu kebetulan semata ataukah memiliki tujuan? Karena itu ia bertanya kepada Ayah.
Hans: “Apakah Ayah percaya pada hal-hal yang terjadi secara kebetulan?”
Ayah: “…Ya! Tapi hal yang kebetulan adalah sesuatu yang benar-benar terjadi secara kebetulan.”
Hans lalu menanyakan apakah hanya kebetulan, Ayah memenangkan undian lotere dan bibi menemukan gambar bunda di majalah mode?
Ayah: “Kau bertanya padaku apakah aku percaya pada takdir? […] Jawabannya adalah tidak.”
Hans: “kurasa Ayah tak menganggap bahwa kelahiranku ke dunia hanya sebuah kebetulan.”(MS 161)
Ayah lalu menceritakan sejarah The Black Death tahun 1349 dimana saat itu setengah penduduk Norwegia (kebanyakan anak-anak) meninggal akibat wabah pes dahsyat yang menyerang seluruh Eropa. Pada tahun itu Hans Thomas tentu saja memiliki ribuan nenek moyang. Dia memiliki dua orang tua, empat nenek dan kakek, delapan buyut, enam belas buyutnya buyut – dan seterusnya. Tapi tak satupun dari mereka yang meninggal (sebelum menjadi dewasa, menikah dan melahirkan keturunan) karena sekarang Hans Thomas ada. Kesempatan seorang nenek moyang Hans Thomas untuk tetap bertahan hidup sampai dewasa adalah satu berbanding beberapa milyar. Sungguh kecil sekali. Kita semua rentan terhadap kematian, wabah, virus, bencana alam terburuk, serangga, binatang buas, meteor, petir, sakit, perang, bom nuklir, banjir, api, keracunan, kecelakaan, percobaan pembunuhan dll. Kita berkelahi dengan diri kita sendiri dan kesempatan kita untuk dilahirkan seribu tahun kemudian. Dan hal ini terjadi bermilyar-milyar kali sepanjang sejarah. Setelah itu Ayah berkata:
Ayah: “Aku berbicara tentang mata rantai panjang hal-hal yang kebetulan. Kenyataannya rantai itu kembali ke sel hidup pertama, yang terbagi menjadi dua dan dari sana lahir segala sesuatu yang tumbuh dan muncul di planet ini sekarang, kesempatan tidak terputusnya rantaiku pada suatu saat atau saat lainnya selama tiga atau empat milyar tahun sangat kecil, saking kecilnya sampai hampir tidak terbayangkan.” […] Ini sama halnya dengan semua hal yang kebetulan. […] Intinya adalah orang mengumpulkan contoh-contoh ketika keduanya terjadi secara bersamaan (sehingga seakan-akan keduanya saling berkaitan/memiliki hubungan sebab akibat) […] Aku tak berpikir bahwa dunia merupakan sebuah hal yang kebetulan, Hans Thomas. Kupikir semua yang ada di alam semesta ini memiliki tujuan. Kau akan melihat ada beberapa macam tujuan dibalik kelap-kelip bintang dan galaksi.” (161-163)
Ayah lalu menceritakan mitos Oedipus, Apollo dan peramal Delphi kepada Hans Thomas. Ceritanya panjang, tapi intinya takdir dan ramalan memang misterius.
Refleksi atas Manusia
“Manusia seperti berada dalam suatu permainan soliter raksasa.” Kata ayah suatu ketika. Jika melihat kurcaci-kurcaci di pualu ajaib itu, perkataan ayah mungkin ada benarnya juga. Bukankah manusia juga memiliki angka-angkanya masing-masing? Itulah kode-kode genetika? Dan seperti kurcaci-kurcaci itu pula, tak seorang pun manusia yang memiliki kode/angka yang serupa. Kita juga bekerja, punya spesialisasi, punya keluarga. Ada warna kulit, kekhasan dalam internal suku bangsa, ras, keluarga, bahkan kekhasan individual. Namun jika 52 kurcaci berbeda di pulau ajaib terbagi kedalam empat keluarga, saya tidak tahu manusia terbagi kedalam berapa keluarga/ras/klan/kategorisasi apa yang dipakai? atau berapa banyak jumlah mereka semuanya? dan siapakah yang sedang berurusan dengan kita, subjek-subjek soliter ini?
Apa yang telah Hans Thomas baca di lebih dari separuh bagian buku mungil itu juga begitu mengganggunya. Hingga suatu pagi ketika terbangun diatas kapal Mediterranian Sea dalam perjalanan menyebrangi teluk Corrinth, tanpa alasan yang jelas ia merasa gugup dan gelisah. Bagaimana misteri seluruh kurcaci di pulau ajaib itu bisa masuk akal? Tapi yang paling mengusiknya adalah kenyataan bahwa banyak menusia yang hidup di bumi ini tanpa sadar akan banyak hal di sekitarnya, seperti halnya kurcaci-kurcai pemalas di pulau itu.
“…Dunia adalah misteri. Sebagaimana bagiku, kurasakan sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku melihat dunia sebagai mimpi yang menakjubkan. Kucari berbagai penjelasan bagaimana semua hal bisa terjadi. Seraya kutatap langit yang kian memerah dan makin bercahaya, kurasakan sesuatu yang belum pernah terasa sebelumnya menjalar di tubuhku, dan sejak itu rasanya tak pernah hilang. […] Kurasakan seolah-olah tubuhku adalah sesuatu yang aneh dan asing. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri di kabin ini dan memikirkan semua hal aneh ini? Bagaimana bisa kuciptakan kulit, rambut dan kukuku? Belum lagi gigi! Aku tak mampu memahami kenyataan bahwa lapisan email dan gading tumbuh dalam mulutku, bahwa seluruh tubuh ini adalah Aku.” […] Adalah misteri bagiku bagaimana orang-orang di bumi bisa dengan mudah menjelajahi dunia tanpa banyak bertanya, berulang kali, mengenai siapa diri mereka, dan dari mana mereka berasal. Bagaimana mungkin kehidupan di planet ini menjadi sesuatu yang sepele atau Cuma-Cuma bagimu? Benakku dipenuhi oleh seluruh pikiran dan perasaan itu, yang membuatku bahagia dan sedih secara bersamaan. Perasaan-perasaan itu membuatku merasa kesepian, tapi kesepian semacam ini baik untukku.” (MS 187)
Siangnya, Ayah dan Hans Thomas berkelakar dengan berencana membajak kapal dan menanyai setiap penumpang satu per satu jikalau mereka tahu sesuatu yang dapat menerangi misteri kehidupan. Orang yang tidak bisa menjawab akan diceburkan ke laut. Mereka tentu saja sedang bercanda, dan sebagai gantinya, Hans Thomas melakukan penelitian filosofis dan objeknya adalah penumpang kapal yang berasal dari seluruh belahan dunia.
Yang didapati Hans Thomas adalah bahwa kebanyakan orang di kapal jelas tidak menyadari segala yang dilakukannya. Setiap gerakan kecil terjadi tanpa disadari sepenuhnya. Kedipan contohnya, lipatan kulit kecil diatas mata itu naik turun sendiri seolah-olah ada mekanisme tatap yang mengatur kehidupan itu. Menurutnya, manusia sedikit banyak terlihat lebih hidup daripada sadar.
Refleksi-refleksi antroposentris seperti diatas beberapa kali terulang dalam keseluruhan cerita. Pepatah kuno “Gnothi sé auton” yang tertulis di pintu masuk kuil Delphi rupanya betul-betul tertanam di kepala mereka. Saya jadi teringat akan Nietzsche, tapi itu kita bicarakan lain waktu saja. Kata-kata itu; “Kenali dirimu sendiri” nampaknya lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Dialog dibawah ini cukup memikat.
Ayah: “Tahukah kau mengapa sebagian besar orang memutari dunia tanpa takjub akan segala yang dilihatnya? (Hans menggelengkan kepala) Karena dunia ini telah menjadi kebiasaan. Kita bisa mempelajari hal ini pada anak-anak. Mereka terkesan dengan segala yang mereka lihat di sekitar mereka hingga mereka tak dapat mempercayai penglihatannya. […] kita telah melihat segalanya beberapa kali sebelumnya hingga kita menganggap kenyataan sebagai sesuatu yang apa adanya.” (MS 345-346)
Ini mirip dengan apa yang terjadi pada 52 kartu remi di pulau ajaib. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa mempertanyakan perihal asal-usul diri mereka sendiri. Hanya Joker yang berbeda dengan mereka. Dia bukan wajik, hati, keriting, atau skop. Bukan raja, pangeran, delapan, bukan juga as. Dia hanya joker, dan dia sendiri harus menemukan apakah dia itu. Lonceng pikirannya selalu bergemerincing mengingatkan dia bahwa dia tak punya keluarga. Dia tak punya nomor dan berpenghasilan pun tidak. Dia tak bisa membuat kaca seperti wajik, atau membuat roti seperti hati. Dia tak punya otot kuat seperti skop atau jari kuat seperti keriting. Itu sebabnya dia tinggal menyendiri dan hanya bisa berkeliling mengamati mereka semua dari kejauhan. Tapi justru karena itu Joker mampu melihat banyak hal yang tidak mereka lihat. Inilah yang dikatakan Joker kepada mereka:
“Setiap pagi kalian pergi kerja, tetapi kalian belum betul-betul terbangun. Tentu saja kalian melihat matahari, bulan, bintang-bintang di langit dan segala sesuatu yang bergerak, tapi kalian belum sungguh-sungguh melihat semuanya. Berbeda dengan Joker karena ia ada di dunia ini dengan sebuah cacat: ia melihat terlalu dalam dan terlalu banyak. […] Aku telah melihat diriku sendiri. Telah kulihat bagaimana aku merayap diantara semak-semak dan pepohonan di kebun yang luas.” (MS 336)
Joker mirip Socrates dahulu ketika mengitari pasar Agora sambil berbicara kepada khalayak. Socrates agak kecewa mendapati khalayak yang suka berkata bahwa mereka tahu banyak, padahal tak tahu apa-apa. Mereka mampu mengatakan harga anggur terbaru dan minyak zaitun kepadanya, tapi mereka tak tahu apa-apa berkaitan dengan hidup. Socrates pun kemudian dengan lantang berkata kepada dirinya bahwa ia hanya tahu satu hal – yakni bahwa ia tidak tahu apa-apa.
Filsuf artinya memang orang yang mencari kebijaksanaan. Tapi bukan berarti bahwa filsuf memang bijak/pintar/tahu segalanya. Itulah kira-kira maksud kata-kata Ayah kepada Hans Thomas dibawah ini:
“Jika dua orang tak punya petunjuk atas sesuatu,” kata Ayah suatu ketika, “tapi salah seorang diantaranya mengesankan tahu banyak hal, siapa menurutmu yang paling bijak?” […] Kau mengerti rupanya. itu yang membuat Socrates menjadi seorang filsuf. Menurutnya sungguh menjengkelkan jika tak tahu lebih banyak tentang kehidupan dunia ini. Ia merasa benar-benar tak tahu harus bagaimana.”
Penutup
Itulah beberapa misteri yang bisa saya rangkum dalam buku Misteri Soliter. Memang terasa ngambang tanpa jawaban yang jelas. Tapi memang itulah misteri, something that cannot be understood / explained. Quality of being secret or puzzling (Oxford Concise Dictionary). Dalam buku ini tidak ada fiksasi jawaban tentang pertanyaan atau misteri-misteri yang disadari oleh tokoh-tokohnya. Saya pun tidak perlu memberikan jawaban baku karena saya yakin pembaca sekalian telah menyimpan pertanyaan dan jawabannya sekaligus dalam benak pembaca.
Seperti Frode yang sedang berbicara kepada Tukang Roti Hans satu setengah abad yang lalu. Seperti Tukang Roti Hans yang sedang berbicara kepada Albert Klages satu abad yang lalu. Seperti Albert yang berbicara kepada Ludwig lima puluh tahun yang lalu. Seperti Ludwig yang bercerita kepada Hans Thomas lewat buku mungil enam tahun lalu. Hans Thomas sebenarnya sedang berbicara kepada kita lewat buku misteri soliter semua tentang rahasia-rahasia itu dan bahwa kita semua adalah penerus yang akan menyandang predikat joker selanjutnya.
Benarkah apa yang dikatakan Frode? Jangan-jangan hanya khayalan Tukang Roti Hans. Jika Hans tidak berkhayal, maka Albert-lah yang sedang berkhayal. Atau justru kakek Ludwig-lah yang mengarang semuanya dalam buku mungil. Tapi benarkah ada buku mungil dalam kue itu? Benarkah Hans Thomas duduk di jok belakang dan membaca kisah tentang Soda Pelangi dan Pulau Ajaib? Ataukah dia hanya duduk-duduk saja dan mengkhayalkan segalanya? Atau kitalah sesungguhnya yang sedang melamun? Satu-satunya yang saya ketahui adalah saya tidak tahu apa-apa.
Itu semua sesungguhnya tidaklah penting. Justru memiliki sejenis buku berikut kaca pembesarnya seperti Hans Thomas adalah hal yang paling penting. Selalu ada joker yang berkeliaran di dunia ini. Ia akan membuat dunia tak pernah beristirahat. Di Athena kuno, joker itu mungkin adalah Socrates. Di Prusia modern, bisa jadi Nietzsche. Di Norwegia, anggap saja Hans Thomas dan Ayahnya. Dan di Indonesia, mudah-mudahan kita semua yang ada di ruangan ini.
Wallahu A’lam
Ciputat, 4 wajik bulan Ratu
Lampiran Transkalendarisasi
| TAHUN BIASA | TAHUN KABISAT | |||||||||||||
| MASEHI | REMI | MASEHI | REMI | |||||||||||
| TOT HARI | BLN | TGL | BLN | MGG | TGL | TOT HARI | BLN | TGL | BLN | MGG | TGL | |||
| 1 | JANUARI | 1 | AS | WAJIK | 1 | 1 | JANUARI | 1 | AS | WAJIK | 1 | |||
| 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 | |||||||||
| 3 | 3 | 3 | 3 | 3 | 3 | |||||||||
| 4 | 4 | 4 | 4 | 4 | 4 | |||||||||
| 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | 5 | |||||||||
| 6 | 6 | 6 | 6 | 6 | 6 | |||||||||
| 7 | 7 | 7 | 7 | 7 | 7 | |||||||||
| 8 | 8 | KERITING | 1 | 8 | 8 | KERITING | 1 | |||||||
| 9 | 9 | 2 | 9 | 9 | 2 | |||||||||
| 10 | 10 | 3 | 10 | 10 | 3 | |||||||||
| 11 | 11 | 4 | 11 | 11 | 4 | |||||||||
| 12 | 12 | 5 | 12 | 12 | 5 | |||||||||
| 13 | 13 | 6 | 13 | 13 | 6 | |||||||||
| 14 | 14 | 7 | 14 | 14 | 7 | |||||||||
| 15 | 15 | AS | 1 | 15 | 15 | AS | 1 | |||||||
| 16 | 16 | 2 | 16 | 16 | 2 | |||||||||
| 17 | 17 | 3 | 17 | 17 | 3 | |||||||||
| 18 | 18 | 4 | 18 | 18 | 4 | |||||||||
| 19 | 19 | 5 | 19 | 19 | 5 | |||||||||
| 20 | 20 | 6 | 20 | 20 | 6 | |||||||||
| 21 | 21 | 7 | 21 | 21 | 7 | |||||||||
| 22 | 22 | SKOP | 1 | 22 | 22 | SKOP | 1 | |||||||
| 23 | 23 | 2 | 23 | 23 | 2 | |||||||||
| 24 | 24 | 3 | 24 | 24 | 3 | |||||||||
| 25 | 25 | 4 | 25 | 25 | 4 | |||||||||
| 26 | 26 | 5 | 26 | 26 | 5 | |||||||||
| 27 | 27 | 6 | 27 | 27 | 6 | |||||||||
| 28 | 28 | 7 | 28 | 28 | 7 | |||||||||
| 29 | 29 | DUA | WAJIK | 1 | 29 | 29 | DUA | WAJIK | 1 | |||||
| 30 | 30 | 2 | 30 | 30 | 2 | |||||||||
| 31 | 31 | 3 | 31 | 31 | 3 | |||||||||
| 32 | FEBRUARI | 1 | 4 | 32 | FEBRUARI | 1 | 4 | |||||||
| 33 | 2 | 5 | 33 | 2 | 5 | |||||||||
| 34 | 3 | 6 | 34 | 3 | 6 | |||||||||
| 35 | 4 | 7 | 35 | 4 | 7 | |||||||||
| 36 | 5 | KERITING | 1 | 36 | 5 | KERITING | 1 | |||||||
| 37 | 6 | 2 | 37 | 6 | 2 | |||||||||
| 38 | 7 | 3 | 38 | 7 | 3 | |||||||||
| 39 | 8 | 4 | 39 | 8 | 4 | |||||||||
| 40 | 9 | 5 | 40 | 9 | 5 | |||||||||
| 41 | 10 | 6 | 41 | 10 | 6 | |||||||||
| 42 | 11 | 7 | 42 | 11 | 7 | |||||||||
| 43 | 12 | AS | 1 | 43 | 12 | AS | 1 | |||||||
| 44 | 13 | 2 | 44 | 13 | 2 | |||||||||
| 45 | 14 | 3 | 45 | 14 | 3 | |||||||||
| 46 | 15 | 4 | 46 | 15 | 4 | |||||||||
| 47 | 16 | 5 | 47 | 16 | 5 | |||||||||
| 48 | 17 | 6 | 48 | 17 | 6 | |||||||||
| 49 | 18 | 7 | 49 | 18 | 7 | |||||||||
| 50 | 19 | SKOP | 1 | 50 | 19 | SKOP | 1 | |||||||
| 51 | 20 | 2 | 51 | 20 | 2 | |||||||||
| 52 | 21 | 3 | 52 | 21 | 3 | |||||||||
| 53 | 22 | 4 | 53 | 22 | 4 | |||||||||
| 54 | 23 | 5 | 54 | 23 | 5 | |||||||||
| 55 | 24 | 6 | 55 | 24 | 6 | |||||||||
| 56 | 25 | 7 | 56 | 25 | 7 | |||||||||
| 57 | 26 | TIGA | WAJIK | 1 | 57 | 26 | TIGA | WAJIK | 1 | |||||
| 58 | 27 | 2 | 58 | 27 | 2 | |||||||||
| 59 | 28 | 3 | 59 | 28 | 3 | |||||||||
| 60 | MARET | 1 | 4 | 60 | 29 | HARI JOKER | ||||||||
| 61 | 2 | 5 | 61 | MARET | 1 | TIGA | WAJIK | 4 | ||||||
| 62 | 3 | 6 | 62 | 2 | 5 | |||||||||
| 63 | 4 | 7 | 63 | 3 | 6 | |||||||||
| 64 | 5 | KERITING | 1 | 64 | 4 | 7 | ||||||||
| 65 | 6 | 2 | 65 | 5 | KERITING | 1 | ||||||||
| 66 | 7 | 3 | 66 | 6 | 2 | |||||||||
| 67 | 8 | 4 | 67 | 7 | 3 | |||||||||
| 68 | 9 | 5 | 68 | 8 | 4 | |||||||||
| 69 | 10 | 6 | 69 | 9 | 5 | |||||||||
| 70 | 11 | 7 | 70 | 10 | 6 | |||||||||
| 71 | 12 | AS | 1 | 71 | 11 | 7 | ||||||||
| 72 | 13 | 2 | 72 | 12 | AS | 1 | ||||||||
| 73 | 14 | 3 | 73 | 13 | 2 | |||||||||
| 74 | 15 | 4 | 74 | 14 | 3 | |||||||||
| 75 | 16 | 5 | 75 | 15 | 4 | |||||||||
| 76 | 17 | 6 | 76 | 16 | 5 | |||||||||
| 77 | 18 | 7 | 77 | 17 | 6 | |||||||||
| 78 | 19 | SKOP | 1 | 78 | 18 | 7 | ||||||||
| 79 | 20 | 2 | 79 | 19 | SKOP | 1 | ||||||||
| 80 | 21 | 3 | 80 | 20 | 2 | |||||||||
| 81 | 22 | 4 | 81 | 21 | 3 | |||||||||
| 82 | 23 | 5 | 82 | 22 | 4 | |||||||||
| 83 | 24 | 6 | 83 | 23 | 5 | |||||||||
| 84 | 25 | 7 | 84 | 24 | 6 | |||||||||
| 85 | 26 | EMPAT | WAJIK | 1 | 85 | 25 | 7 | |||||||
| 86 | 27 | 2 | 86 | 26 | EMPAT | WAJIK | 1 | |||||||
| 87 | 28 | 3 | 87 | 27 | 2 | |||||||||
| 88 | 29 | 4 | 88 | 28 | 3 | |||||||||
| 89 | 30 | 5 | 89 | 29 | 4 | |||||||||
| 90 | 31 | 6 | 90 | 30 | 5 | |||||||||
| 91 | APRIL | 1 | 7 | 91 | 31 | 6 | ||||||||
| 92 | 2 | KERITING | 1 | 92 | APRIL | 1 | 7 | |||||||
| 93 | 3 | 2 | 93 | 2 | KERITING | 1 | ||||||||
| 94 | 4 | 3 | 94 | 3 | 2 | |||||||||
| 95 | 5 | 4 | 95 | 4 | 3 | |||||||||
| 96 | 6 | 5 | 96 | 5 | 4 | |||||||||
| 97 | 7 | 6 | 97 | 6 | 5 | |||||||||
| 98 | 8 | 7 | 98 | 7 | 6 | |||||||||
| 99 | 9 | AS | 1 | 99 | 8 | 7 | ||||||||
| 100 | 10 | 2 | 100 | 9 | AS | 1 | ||||||||
| 101 | 11 | 3 | 101 | 10 | 2 | |||||||||
| 102 | 12 | 4 | 102 | 11 | 3 | |||||||||
| 103 | 13 | 5 | 103 | 12 | 4 | |||||||||
| 104 | 14 | 6 | 104 | 13 | 5 | |||||||||
| 105 | 15 | 7 | 105 | 14 | 6 | |||||||||
| 106 | 16 | SKOP | 1 | 106 | 15 | 7 | ||||||||
| 107 | 17 | 2 | 107 | 16 | SKOP | 1 | ||||||||
| 108 | 18 | 3 | 108 | 17 | 2 | |||||||||
| 109 | 19 | 4 | 109 | 18 | 3 | |||||||||
| 110 | 20 | 5 | 110 | 19 | 4 | |||||||||
| 111 | 21 | 6 | 111 | 20 | 5 | |||||||||
| 112 | 22 | 7 | 112 | 21 | 6 | |||||||||
| 113 | 23 | LIMA | WAJIK | 1 | 113 | 22 | 7 | |||||||
| 114 | 24 | 2 | 114 | 23 | LIMA | WAJIK | 1 | |||||||
| 115 | 25 | 3 | 115 | 24 | 2 | |||||||||
| 116 | 26 | 4 | 116 | 25 | 3 | |||||||||
| 117 | 27 | 5 | 117 | 26 | 4 | |||||||||
| 118 | 28 | 6 | 118 | 27 | 5 | |||||||||
| 119 | 29 | 7 | 119 | 28 | 6 | |||||||||
| 120 | 30 | KERITING | 1 | 120 | 29 | 7 | ||||||||
| 121 | MEI | 1 | 2 | 121 | 30 | KERITING | 1 | |||||||
| 122 | 2 | 3 | 122 | MEI | 1 | 2 | ||||||||
| 123 | 3 | 4 | 123 | 2 | 3 | |||||||||
| 124 | 4 | 5 | 124 | 3 | 4 | |||||||||
| 125 | 5 | 6 | 125 | 4 | 5 | |||||||||
| 126 | 6 | 7 | 126 | 5 | 6 | |||||||||
| 127 | 7 | AS | 1 | 127 | 6 | 7 | ||||||||
| 128 | 8 | 2 | 128 | 7 | AS | 1 | ||||||||
| 129 | 9 | 3 | 129 | 8 | 2 | |||||||||
| 130 | 10 | 4 | 130 | 9 | 3 | |||||||||
| 131 | 11 | 5 | 131 | 10 | 4 | |||||||||
| 132 | 12 | 6 | 132 | 11 | 5 | |||||||||
| 133 | 13 | 7 | 133 | 12 | 6 | |||||||||
| 134 | 14 | SKOP | 1 | 134 | 13 | 7 | ||||||||
| 135 | 15 | 2 | 135 | 14 | SKOP | 1 | ||||||||
| 136 | 16 | 3 | 136 | 15 | 2 | |||||||||
| 137 | 17 | 4 | 137 | 16 | 3 | |||||||||
| 138 | 18 | 5 | 138 | 17 | 4 | |||||||||
| 139 | 19 | 6 | 139 | 18 | 5 | |||||||||
| 140 | 20 | 7 | 140 | 19 | 6 | |||||||||
| 141 | 21 | ENAM | WAJIK | 1 | 141 | 20 | 7 | |||||||
| 142 | 22 | 2 | 142 | 21 | ENAM | WAJIK | 1 | |||||||
| 143 | 23 | 3 | 143 | 22 | 2 | |||||||||
| 144 | 24 | 4 | 144 | 23 | 3 | |||||||||
| 145 | 25 | 5 | 145 | 24 | 4 | |||||||||
| 146 | 26 | 6 | 146 | 25 | 5 | |||||||||
| 147 | 27 | 7 | 147 | 26 | 6 | |||||||||
| 148 | 28 | KERITING | 1 | 148 | 27 | 7 | ||||||||
| 149 | 29 | 2 | 149 | 28 | KERITING | 1 | ||||||||
| 150 | 30 | 3 | 150 | 29 | 2 | |||||||||
| 151 | 31 | 4 | 151 | 30 | 3 | |||||||||
| 152 | JUNI | 1 | 5 | 152 | 31 | 4 | ||||||||
| 153 | 2 | 6 | 153 | JUNI | 1 | 5 | ||||||||
| 154 | 3 | 7 | 154 | 2 | 6 | |||||||||
| 155 | 4 | AS | 1 | 155 | 3 | 7 | ||||||||
| 156 | 5 | 2 | 156 | 4 | AS | 1 | ||||||||
| 157 | 6 | 3 | 157 | 5 | 2 | |||||||||
| 158 | 7 | 4 | 158 | 6 | 3 | |||||||||
| 159 | 8 | 5 | 159 | 7 | 4 | |||||||||
| 160 | 9 | 6 | 160 | 8 | 5 | |||||||||
| 161 | 10 | 7 | 161 | 9 | 6 | |||||||||
| 162 | 11 | SKOP | 1 | 162 | 10 | 7 | ||||||||
| 163 | 12 | 2 | 163 | 11 | SKOP | 1 | ||||||||
| 164 | 13 | 3 | 164 | 12 | 2 | |||||||||
| 165 | 14 | 4 | 165 | 13 | 3 | |||||||||
| 166 | 15 | 5 | 166 | 14 | 4 | |||||||||
| 167 | 16 | 6 | 167 | 15 | 5 | |||||||||
| 168 | 17 | 7 | 168 | 16 | 6 | |||||||||
| 169 | 18 | TUJUH | WAJIK | 1 | 169 | 17 | 7 | |||||||
| 170 | 19 | 2 | 170 | 18 | TUJUH | WAJIK | 1 | |||||||
| 171 | 20 | 3 | 171 | 19 | 2 | |||||||||
| 172 | 21 | 4 | 172 | 20 | 3 | |||||||||
| 173 | 22 | 5 | 173 | 21 | 4 | |||||||||
| 174 | 23 | 6 | 174 | 22 | 5 | |||||||||
| 175 | 24 | 7 | 175 | 23 | 6 | |||||||||
| 176 | 25 | KERITING | 1 | 176 | 24 | 7 | ||||||||
| 177 | 26 | 2 | 177 | 25 | KERITING | 1 | ||||||||
| 178 | 27 | 3 | 178 | 26 | 2 | |||||||||
| 179 | 28 | 4 | 179 | 27 | 3 | |||||||||
| 180 | 29 | 5 | 180 | 28 | 4 | |||||||||
| 181 | 30 | 6 | 181 | 29 | 5 | |||||||||
| 182 | JULI | 1 | 7 | 182 | 30 | 6 | ||||||||
| 183 | 2 | AS | 1 | 183 | JULI | 1 | 7 | |||||||
| 184 | 3 | 2 | 184 | 2 | AS | 1 | ||||||||
| 185 | 4 | 3 | 185 | 3 | 2 | |||||||||
| 186 | 5 | 4 | 186 | 4 | 3 | |||||||||
| 187 | 6 | 5 | 187 | 5 | 4 | |||||||||
| 188 | 7 | 6 | 188 | 6 | 5 | |||||||||
| 189 | 8 | 7 | 189 | 7 | 6 | |||||||||
| 190 | 9 | SKOP | 1 | 190 | 8 | 7 | ||||||||
| 191 | 10 | 2 | 191 | 9 | SKOP | 1 | ||||||||
| 192 | 11 | 3 | 192 | 10 | 2 | |||||||||
| 193 | 12 | 4 | 193 | 11 | 3 | |||||||||
| 194 | 13 | 5 | 194 | 12 | 4 | |||||||||
| 195 | 14 | 6 | 195 | 13 | 5 | |||||||||
| 196 | 15 | 7 | 196 | 14 | 6 | |||||||||
| 197 | 16 | DELAPAN | WAJIK | 1 | 197 | 15 | 7 | |||||||
| 198 | 17 | 2 | 198 | 16 | DELAPAN | WAJIK | 1 | |||||||
| 199 | 18 | 3 | 199 | 17 | 2 | |||||||||
| 200 | 19 | 4 | 200 | 18 | 3 | |||||||||
| 201 | 20 | 5 | 201 | 19 | 4 | |||||||||
| 202 | 21 | 6 | 202 | 20 | 5 | |||||||||
| 203 | 22 | 7 | 203 | 21 | 6 | |||||||||
| 204 | 23 | KERITING | 1 | 204 | 22 | 7 | ||||||||
| 205 | 24 | 2 | 205 | 23 | KERITING | 1 | ||||||||
| 206 | 25 | 3 | 206 | 24 | 2 | |||||||||
| 207 | 26 | 4 | 207 | 25 | 3 | |||||||||
| 208 | 27 | 5 | 208 | 26 | 4 | |||||||||
| 209 | 28 | 6 | 209 | 27 | 5 | |||||||||
| 210 | 29 | 7 | 210 | 28 | 6 | |||||||||
| 211 | 30 | AS | 1 | 211 | 29 | 7 | ||||||||
| 212 | 31 | 2 | 212 | 30 | AS | 1 | ||||||||
| 213 | AGUSTUS | 1 | 3 | 213 | 31 | 2 | ||||||||
| 214 | 2 | 4 | 214 | AGUSTUS | 1 | 3 | ||||||||
| 215 | 3 | 5 | 215 | 2 | 4 | |||||||||
| 216 | 4 | 6 | 216 | 3 | 5 | |||||||||
| 217 | 5 | 7 | 217 | 4 | 6 | |||||||||
| 218 | 6 | SKOP | 1 | 218 | 5 | 7 | ||||||||
| 219 | 7 | 2 | 219 | 6 | SKOP | 1 | ||||||||
| 220 | 8 | 3 | 220 | 7 | 2 | |||||||||
| 221 | 9 | 4 | 221 | 8 | 3 | |||||||||
| 222 | 10 | 5 | 222 | 9 | 4 | |||||||||
| 223 | 11 | 6 | 223 | 10 | 5 | |||||||||
| 224 | 12 | 7 | 224 | 11 | 6 | |||||||||
| 225 | 13 | SEMBILAN | WAJIK | 1 | 225 | 12 | 7 | |||||||
| 226 | 14 | 2 | 226 | 13 | SEMBILAN | WAJIK | 1 | |||||||
| 227 | 15 | 3 | 227 | 14 | 2 | |||||||||
| 228 | 16 | 4 | 228 | 15 | 3 | |||||||||
| 229 | 17 | 5 | 229 | 16 | 4 | |||||||||
| 230 | 18 | 6 | 230 | 17 | 5 | |||||||||
| 231 | 19 | 7 | 231 | 18 | 6 | |||||||||
| 232 | 20 | KERITING | 1 | 232 | 19 | 7 | ||||||||
| 233 | 21 | 2 | 233 | 20 | KERITING | 1 | ||||||||
| 234 | 22 | 3 | 234 | 21 | 2 | |||||||||
| 235 | 23 | 4 | 235 | 22 | 3 | |||||||||
| 236 | 24 | 5 | 236 | 23 | 4 | |||||||||
| 237 | 25 | 6 | 237 | 24 | 5 | |||||||||
| 238 | 26 | 7 | 238 | 25 | 6 | |||||||||
| 239 | 27 | AS | 1 | 239 | 26 | 7 | ||||||||
| 240 | 28 | 2 | 240 | 27 | AS | 1 | ||||||||
| 241 | 29 | 3 | 241 | 28 | 2 | |||||||||
| 242 | 30 | 4 | 242 | 29 | 3 | |||||||||
| 243 | 31 | 5 | 243 | 30 | 4 | |||||||||
| 244 | SEPTEMBER | 1 | 6 | 244 | 31 | 5 | ||||||||
| 245 | 2 | 7 | 245 | SEPTEMBER | 1 | 6 | ||||||||
| 246 | 3 | SKOP | 1 | 246 | 2 | 7 | ||||||||
| 247 | 4 | 2 | 247 | 3 | SKOP | 1 | ||||||||
| 248 | 5 | 3 | 248 | 4 | 2 | |||||||||
| 249 | 6 | 4 | 249 | 5 | 3 | |||||||||
| 250 | 7 | 5 | 250 | 6 | 4 | |||||||||
| 251 | 8 | 6 | 251 | 7 | 5 | |||||||||
| 252 | 9 | 7 | 252 | 8 | 6 | |||||||||
| 253 | 10 | SEPULUH | WAJIK | 1 | 253 | 9 | 7 | |||||||
| 254 | 11 | 2 | 254 | 10 | SEPULUH | WAJIK | 1 | |||||||
| 255 | 12 | 3 | 255 | 11 | 2 | |||||||||
| 256 | 13 | 4 | 256 | 12 | 3 | |||||||||
| 257 | 14 | 5 | 257 | 13 | 4 | |||||||||
| 258 | 15 | 6 | 258 | 14 | 5 | |||||||||
| 259 | 16 | 7 | 259 | 15 | 6 | |||||||||
| 260 | 17 | KERITING | 1 | 260 | 16 | 7 | ||||||||
| 261 | 18 | 2 | 261 | 17 | KERITING | 1 | ||||||||
| 262 | 19 | 3 | 262 | 18 | 2 | |||||||||
| 263 | 20 | 4 | 263 | 19 | 3 | |||||||||
| 264 | 21 | 5 | 264 | 20 | 4 | |||||||||
| 265 | 22 | 6 | 265 | 21 | 5 | |||||||||
| 266 | 23 | 7 | 266 | 22 | 6 | |||||||||
| 267 | 24 | AS | 1 | 267 | 23 | 7 | ||||||||
| 268 | 25 | 2 | 268 | 24 | AS | 1 | ||||||||
| 269 | 26 | 3 | 269 | 25 | 2 | |||||||||
| 270 | 27 | 4 | 270 | 26 | 3 | |||||||||
| 271 | 28 | 5 | 271 | 27 | 4 | |||||||||
| 272 | 29 | 6 | 272 | 28 | 5 | |||||||||
| 273 | 30 | 7 | 273 | 29 | 6 | |||||||||
| 274 | OKTOBER | 1 | SKOP | 1 | 274 | 30 | 7 | |||||||
| 275 | 2 | 2 | 275 | OKTOBER | 1 | SKOP | 1 | |||||||
| 276 | 3 | 3 | 276 | 2 | 2 | |||||||||
| 277 | 4 | 4 | 277 | 3 | 3 | |||||||||
| 278 | 5 | 5 | 278 | 4 | 4 | |||||||||
| 279 | 6 | 6 | 279 | 5 | 5 | |||||||||
| 280 | 7 | 7 | 280 | 6 | 6 | |||||||||
| 281 | 8 | PANGERAN | WAJIK | 1 | 281 | 7 | 7 | |||||||
| 282 | 9 | 2 | 282 | 8 | PANGERAN | WAJIK | 1 | |||||||
| 283 | 10 | 3 | 283 | 9 | 2 | |||||||||
| 284 | 11 | 4 | 284 | 10 | 3 | |||||||||
| 285 | 12 | 5 | 285 | 11 | 4 | |||||||||
| 286 | 13 | 6 | 286 | 12 | 5 | |||||||||
| 287 | 14 | 7 | 287 | 13 | 6 | |||||||||
| 288 | 15 | KERITING | 1 | 288 | 14 | 7 | ||||||||
| 289 | 16 | 2 | 289 | 15 | KERITING | 1 | ||||||||
| 290 | 17 | 3 | 290 | 16 | 2 | |||||||||
| 291 | 18 | 4 | 291 | 17 | 3 | |||||||||
| 292 | 19 | 5 | 292 | 18 | 4 | |||||||||
| 293 | 20 | 6 | 293 | 19 | 5 | |||||||||
| 294 | 21 | 7 | 294 | 20 | 6 | |||||||||
| 295 | 22 | AS | 1 | 295 | 21 | 7 | ||||||||
| 296 | 23 | 2 | 296 | 22 | AS | 1 | ||||||||
| 297 | 24 | 3 | 297 | 23 | 2 | |||||||||
| 298 | 25 | 4 | 298 | 24 | 3 | |||||||||
| 299 | 26 | 5 | 299 | 25 | 4 | |||||||||
| 300 | 27 | 6 | 300 | 26 | 5 | |||||||||
| 301 | 28 | 7 | 301 | 27 | 6 | |||||||||
| 302 | 29 | SKOP | 1 | 302 | 28 | 7 | ||||||||
| 303 | 30 | 2 | 303 | 29 | SKOP | 1 | ||||||||
| 304 | 31 | 3 | 304 | 30 | 2 | |||||||||
| 305 | NOPEMBER | 1 | 4 | 305 | 31 | 3 | ||||||||
| 306 | 2 | 5 | 306 | NOPEMBER | 1 | 4 | ||||||||
| 307 | 3 | 6 | 307 | 2 | 5 | |||||||||
| 308 | 4 | 7 | 308 | 3 | 6 | |||||||||
| 309 | 5 | RATU | WAJIK | 1 | 309 | 4 | 7 | |||||||
| 310 | 6 | 2 | 310 | 5 | RATU | WAJIK | 1 | |||||||
| 311 | 7 | 3 | 311 | 6 | 2 | |||||||||
| 312 | 8 | 4 | 312 | 7 | 3 | |||||||||
| 313 | 9 | 5 | 313 | 8 | 4 | |||||||||
| 314 | 10 | 6 | 314 | 9 | 5 | |||||||||
| 315 | 11 | 7 | 315 | 10 | 6 | |||||||||
| 316 | 12 | KERITING | 1 | 316 | 11 | 7 | ||||||||
| 317 | 13 | 2 | 317 | 12 | KERITING | 1 | ||||||||
| 318 | 14 | 3 | 318 | 13 | 2 | |||||||||
| 319 | 15 | 4 | 319 | 14 | 3 | |||||||||
| 320 | 16 | 5 | 320 | 15 | 4 | |||||||||
| 321 | 17 | 6 | 321 | 16 | 5 | |||||||||
| 322 | 18 | 7 | 322 | 17 | 6 | |||||||||
| 323 | 19 | AS | 1 | 323 | 18 | 7 | ||||||||
| 324 | 20 | 2 | 324 | 19 | AS | 1 | ||||||||
| 325 | 21 | 3 | 325 | 20 | 2 | |||||||||
| 326 | 22 | 4 | 326 | 21 | 3 | |||||||||
| 327 | 23 | 5 | 327 | 22 | 4 | |||||||||
| 328 | 24 | 6 | 328 | 23 | 5 | |||||||||
| 329 | 25 | 7 | 329 | 24 | 6 | |||||||||
| 330 | 26 | SKOP | 1 | 330 | 25 | 7 | ||||||||
| 331 | 27 | 2 | 331 | 26 | SKOP | 1 | ||||||||
| 332 | 28 | 3 | 332 | 27 | 2 | |||||||||
| 333 | 29 | 4 | 333 | 28 | 3 | |||||||||
| 334 | 30 | 5 | 334 | 29 | 4 | |||||||||
| 335 | DESEMBER | 1 | 6 | 335 | 30 | 5 | ||||||||
| 336 | 2 | 7 | 336 | DESEMBER | 1 | 6 | ||||||||
| 337 | 3 | RAJA | WAJIK | 1 | 337 | 2 | 7 | |||||||
| 338 | 4 | 2 | 338 | 3 | RAJA | WAJIK | 1 | |||||||
| 339 | 5 | 3 | 339 | 4 | 2 | |||||||||
| 340 | 6 | 4 | 340 | 5 | 3 | |||||||||
| 341 | 7 | 5 | 341 | 6 | 4 | |||||||||
| 342 | 8 | 6 | 342 | 7 | 5 | |||||||||
| 343 | 9 | 7 | 343 | 8 | 6 | |||||||||
| 344 | 10 | KERITING | 1 | 344 | 9 | 7 | ||||||||
| 345 | 11 | 2 | 345 | 10 | KERITING | 1 | ||||||||
| 346 | 12 | 3 | 346 | 11 | 2 | |||||||||
| 347 | 13 | 4 | 347 | 12 | 3 | |||||||||
| 348 | 14 | 5 | 348 | 13 | 4 | |||||||||
| 349 | 15 | 6 | 349 | 14 | 5 | |||||||||
| 350 | 16 | 7 | 350 | 15 | 6 | |||||||||
| 351 | 17 | AS | 1 | 351 | 16 | 7 | ||||||||
| 352 | 18 | 2 | 352 | 17 | AS | 1 | ||||||||
| 353 | 19 | 3 | 353 | 18 | 2 | |||||||||
| 354 | 20 | 4 | 354 | 19 | 3 | |||||||||
| 355 | 21 | 5 | 355 | 20 | 4 | |||||||||
| 356 | 22 | 6 | 356 | 21 | 5 | |||||||||
| 357 | 23 | 7 | 357 | 22 | 6 | |||||||||
| 358 | 24 | SKOP | 1 | 358 | 23 | 7 | ||||||||
| 359 | 25 | 2 | 359 | 24 | SKOP | 1 | ||||||||
| 360 | 26 | 3 | 360 | 25 | 2 | |||||||||
| 361 | 27 | 4 | 361 | 26 | 3 | |||||||||
| 362 | 28 | 5 | 362 | 27 | 4 | |||||||||
| 363 | 29 | 6 | 363 | 28 | 5 | |||||||||
| 364 | 30 | 7 | 364 | 29 | 6 | |||||||||
| 365 | 31 | HARI JOKER | 365 | 30 | 7 | |||||||||
| 366 | 31 | HARI JOKER | ||||||||||||




Jenius jenius…
hebat lah…..
kalo bikin buku saya yang beli perdana